Akibat Asa Yang Putus
sakurai_jo
The Mist
Directed By : Frank Darabont
Cast : Thomas Jane, Marcia Gay Hayden, Nathan Gamble, Laurie Holden
Image and video hosting by TinyPic
Plot :
After a violent storm attacks a town in Maine, an approaching cloud of mist appears the next morning. As the mist quickly envelops the area, a group of people get trapped in a local grocery store -among them, artist David Drayton and his five-year-old son. The people soon discover that within the mist lives numerous species of horrific, unworldly creatures that entered through an inter-dimensional rift, which may or may not have been caused by a nearby military base. As the world around them manifests into a literal hell-on-earth, the horrified citizens try desperately to survive this apocalyptic disaster. Written by thedictator@sbcglobal.net

My Note :

Gue tertarik film ini karena 2 hal : Stephen King dan Frank Darabont.
Cerita2 horror-nya Stephen King benar2 luar biasa, seolah mimpi buruk yang menjadi nyata. Efeknya jauh melebihi Nightmare On Elm Street yang terkesan dibuat2. Tiap episode serial Nightmare & Dreamscapes (salah satu serial yang diambil dari kumpulan cerpen-nya King) gue nikmati banget, sambil mengangguk2 tentu, karena khayalan gue tentang hal2 buruk ternyata terwakili oleh cerita2 King. Luar biasanya, King adalah penulis cerita drama yang luar biasa. Kalo lo pernah nonton Green Mile dan Shawshank Redemption, lo akan tahu maksud gue. Nah, kedua film cantik itu disutradarai oleh Frank Darabont. Ga salah dong kalo gue tertarik nonton The Mist ?!
Sewaktu gue puter film ini, mau ga mau gue banyak berharap. Excitement yang gue dapat di awal penayangan, sempat drop tatkala gue melihat monster tentakel muncul. Blah ! ‘Dream Catcher’ kind of movie ! Satu – satunya film King yang gue benci adalah Dream Catcher. Suami gue menyarankan untuk sabar nonton, karena dia yakin banget bakalan ada sesuatu yang lain. Jika toh The Mist = monster tentakel yang basi, maka biasanya King akan menyorot karakter2 yang ada di dalamnya, hubungannya dengan karakter lain, dan bagaimana dalam situasi seperti itu manusia2 memunculkan watak aslinya. Well, ternyata dia benar. Ada drama disitu, yang membuat kita belajar banyak. Plus bonus kejutan bahwa film ini tidak cuma menghadiahi monster tentakel, tetapi suatu misteri yang lain.
Image and video hosting by TinyPic
Yang paling cantik dari film ini adalah endingnya. Jika kemudian ada comment bahwa film ini mempunyai : one of the most shocking movie endings ever, gue setuju banget.
Gue jamin lo akan gemas dengan ending-nya.
Ada pelajaran yang bisa gue petik darinya, bahwa betapa dalam kondisi seberat apapun, jangan sampai kita sekalipun atau sedetikpun berputus asa, yang kemudian melahirkan kata – kata atau tindakan gegabah yang akan kita sesali seumur hidup.
Lo akan tahu maksud gue kalo lo nonton film ini.
Yaah, untuk seru2an, suguhan adegan yang memicu adrenalin juga ga kurang banyak kok. So, film ini komplit banget !
Pada covernya juga terdapat komentar heboh bahwa film ini adalah film yang ga bisa gitu aja lo lupain. Stay with you for along time. Gw sempat berpikiran negative dan mencibir sedikit, bahwa kemungkinan komentar itu ditujukan untuk menggambarkan betapa seramnya film ini, tentunya plus dengan kesan hiperbolis.
Namun ternyata gue salah.
Film ini memang tidak terlupakan.

Differences part 1 : About novel ‘The Host’ by Stephenie Meyer
sakurai_jo
 
(tulisan dibuat bulan Oktober 2008)
 
“Burns Living Flowers” he introduced himself.
My eyes widened at his name. Fire World – how unexpected.
“Wanderer” I told him.
“It’s…extraordinary to meet you, Wanderer. And here I thought I was one of a kind”
“Not even close” I said, thinking of Sunny (Sunlight Passing Through the Ice) back in the caves. Perhaps we here none of us as rare as we thought.
He raised an eyebrow at my answer, intrigued.
“Is that so ?” he said “Well, maybe there’s some hope for this planet, after all.”
“It’s a strange world,” I murmured, more to myself than to the other native soul.
“The strangest” he agreed.

(salah satu dialog favorit gw dalam The Host)
Image and video hosting by TinyPic


Akhirnya kelar juga The Host gw baca. Thank’s to Andrea Hirata dan Laskar Pelangi The Series-nya yang memukau, yang membuat gw menemukan kembali passion gw terhadap buku. Dan thank’s to Stephenie Meyer, karena sejak gue - mengikuti jejak milyaran cewe sedunia - membaca – plus memesan jauh2 hari sebelumnya di Times Bookstore karena stok serial saga ini habis melulu – bukunya Twilight Saga, gw jadi kembali menemukan cinta gw terhadap buku2 dunia.
Seperti juga untuk Andrea Hirata, of course, gw jatuh hati pada Meyer. Gw menyukai cara bertutur mereka dalam membawakan sebuah cerita. Cinta, keindahan dan harapan. Rasanya tiga hal itu yang selalu ada dalam karya2 mereka. Tiga kombinasi yang bisa dihadirkan sekaligus dalam kondisi yang biasa2 saja, kondisi yang memilukan atau bahkan menakutkan sekalipun.
Khusus untuk Stephenie Meyer, well, yeah yeah, gw akui gw masih mabuk kepayang dengan Twiligt Saga-nya dan ikutan geram tatkala Midnight Sun (Edward’s Story) urung naik cetak karena beberapa chapternya bocor di internet.
Masih di bawah pengaruh sihir Twilight, gw mencoba mencari karya Meyer yang lain, dengan harapan kerinduan gw terhadap Twilight terobati.
Dan gw hanya menemukan The Host.
Sebentar gw timbang2 apakah gw harus membeli novelnya, dan apakah impact yang dihadirkannya akan dapat menetralisir this crazy unbelievable passionate terhadap Twilight. Gw tahu gw butuh itu. Akhirnya gw beli juga bukunya yang nyaris dua kali lipat lebih mahal dari masing2 buku serial Twilight Saga, dengan membawa 70 persen harapan dalam diri gw, dan 30 persen keraguan. Buku ini tidak akan bisa membawa pengaruh apapun yang bisa membuat gw berpaling dari Twilight, begitu pikir gw waktu itu.
Alien ?!! PUAH !
I almost hate aliens stories. Bosan, tepatnya.
But well, ini karya Stephenie Meyer, bukan yang lain. So beat it.
Lagipula Twilight juga kurang lebih bercerita soal alien, dalam bentuk yang beda. Hanya saja mereka bukan datang dari planet lain.
Don’t judge a book by it’s cover … or by it’s synopsis laah
THEN VOILA !
Sekarang gw malah mengharapkan tokoh2 seperti Wanderer, Melanie and Jamie Stryder, Jared Howe, Ian O’Shea atau Uncle Jeb muncul lagi tatkala Meyer ‘berbaik hati’ membuat The Host menjadi Dwilogy, Trilogy atau bahkan Tetralogy seperti Twilight.
Tapi mungkin lebih indah jika The Host berakhir sampai disini.

Seperti yang gw harapkan, Meyer masih memiliki kekuatan dalam cara bertutur, in her way of course. In a way that made me thrilled.
Satu yang pasti, seperti juga pada Twilight, Meyer suka sekali membuat tokoh2 utamanya miserable, full of pain, suffering. Namun tidak pesimis. Atmosfir yang dihasilkannya adalah full of hope.
Dan anyway, gw suka tokoh2 yang dibuat miserable ( ha ha ).
Mengharapkan The Host adalah full sci-fi adalah sia – sia.
Yang gw tangkap, selain bahwa novel itu membawa kita pada petualangan, aksi, kasih sayang dan asmara, adalah bahwa bagaimana kita manusia menghadapi adanya sebuah perbedaan.
Jika dalam Twilight kita dipertemukan dengan makhluk cantik luar dalam bernama Edward Cullen, dalam The Host sosoknya berubah menjadi makhluk perempuan berbentuk semacam cacing berwarna perak yang diberi nama : Wanderer.
Ia ‘menempati’ tubuh seorang manusia perempuan kuat yang baik hati bernama Melanie Stryder.
Tentu saja, kita akan langsung jatuh hati padanya, dan jatuh iba pada perlakuan manusia – manusia yang hanya melihatnya sebagai parasit dan musuh.
But she’s strong, she’s a fighter and she has a beautiful pure heart (and/or soul).
Tiga hal yang jika kita punya, rasanya dunia sudah ada di tangan kita, dan seluruh manusaia di dunia punya, rasanya dunia bisa kiamat :D

Who is alien ? what is it, anyway ?

Kita bisa menjadi alien dimana saja, bagi siapa saja. Di tempat yang baru, bertemu dengan orang baru.
Difensif.
Sering kita bersikat difensif tatkala bertemu dengan orang baru, orang yang kita anggap bodoh, miskin, terlalu kaya, terlalu pintar, tidak sama hobinya, yang aneh, yang jorok, yang gila, yang menakutkan, yang menyebalkan. Tidak seiman, tidak se-prinsip, tidak se-suku, tidak se-negara, Orang yang kita anggap musuh. Orang yang kita anggap : beda.
Kadangkala malah kita adalah alien bagi diri kita sendiri.
Manusiawi ? Yes, of course.
Jangan anggap gw ga pernah merasakan itu.
Sering, malah.

SO LADIES ‘N GENTLEMENT,
WE’RE ALL ALIEN.


It means, tanpa alien, dunia kiamat.
Pada akhirnya gw tidak lagi membenci cerita2 tentang alien :p
B’coz it’s all about us.

IMMITATION OF LOVE (??)
sakurai_jo

500 Days of Summer
Directed By : Marc Webb
Cast : Joseph Gordon-Levitt, Zooey Deschanel
Image and video hosting by TinyPic
An offbeat romantic comedy about a woman who doesn't
believe true love exists, and the young man who falls for her
 
Sebelum gw kasih komen soal film ini, ada yang bikin cengar cengir di awal penayangannya, sebelum adegan masuk.
Pada awalnya sih biasa aja, ada author’s note seperti ini :

The following is a work of fiction.
Any resemblance to persons living or dead is purely coincidental
.

Biasa aja kan ?!
Naa, kalimat selanjutnya yang bikin nyengir.
Kalo dibaca seluruhnya, maka note selengkapya adalah :

The following is a work of fiction.
Any resemblance to persons living or dead is purely coincidental.

Especially you Jenny Beckman

Bitch.

He he he..
Hal yang bikin gw sempat berpikir bahwa film maker-nya cewe., joker, ato emang ‘sekedar’ orang ‘sinting’. ^^


Well anyway komen gw untuk film ini beneran personal banget. Gw ga akan berkomentar soal hal tekhnis, karena memang gw kurang mengerti, kecuali yang memang kentara banget dan cukup mengganggu bagi penonton awam sekalipun, dan di film ini g rasa hal itu ga ada.
Bisa jadi komen ini hanyalah apa yang gw rasakan saat dan setelah nonton film ini.
Keseluruhannya : interesting

Alur film ini maju-mundur-maju. Misalnya, masuk hari 1, lompat ke hari 204 balik ke hari 3,tau2 hari ke 488, dst. Meski begitu, alurnya menurut gw ga bikin bingung, meskipun pada satu atau dua spot, gw lost, lupa gw berada di adegan hari ke berapa (he he ).Tapi tidak masalah, karena tidak membuat gw bingung. Ikuti aja.

Hal yang menarik dari film ini adalah kita diajak ikut ke dalam jungkir baliknya perasaan dan pikiran Tom Hansen (Joseph Gordon-Levitt) tokoh utamanya, dan penggambarannya bisa apa saja, meskipun tidak terlalu kaya ekspresi. seperti dalam serial Ally McBeal.
Saat perasaan Tom sedang berbunga2, tiba2 saja film ini serupa drama musikal dimana ia menari2 dan semua orang di jalan mengikuti.
Atau saat pikirannya galau dan ia sedang berada di dalam gedung bioskop, tiba2 saja adegan2 film yang tengah diputar semua diperankan olehnya dengan karakter berbeda2 dan dengan bahasa yang campur aduk,

What is love ? Apa sih cinta itu ? Dalam hal ini gw mempersempitnya menjadi hanya cinta antara laki laki dan perempuan.
Kalau gw tanya ke kamu pertanyaan seperi itu, gw yakin jawaban kamu beragam atau bahkan ada yang tidak bisa menjawab sama sekali.
Reaksi kamu juga gw yakin beragam : senyum, tertawa, malu2, mencibir, mengerutkan kening, dsb.

Tagline film ini adalah : Boy meets girl. Boy falls in love, girl doesn’t
Pada awal penayangan, narrator sempat berkata: this is story of boy meets girl. But you should know up front, this is not a love story.
Intinya bisa saja : boy falls in love, (but) this is not a love story.
Bagi gw : boy (think he) falls in love, (but he doesn’t). (So) this is (definitely) not a love story.
Bagi gw, Tom Hansen tergila2 pada Summer Finn (Zooey Deschanel) bukan karena cinta, tetapi karena penasaran, Summer Finn was playing hard to get. Laki – laki menurut gw biasanya akan penasaran dan tergila2 dengan model perempuan semacam ini,
Mungkin akan berbeda ceritanya bila Tom Hansen naksir Summer, dan Summer menerima dengan tangan terbuka dan akhirnya mereka pacaran beneran.
End of story, boring, life is flat.
Dan itu tidak mungkin terjadi. Dalam kehidupan nyata, especially.
Karena film adalah cerminan kehidupan nyata, maka untuk romance story pun, harus ada konflik, dari pihak laki2 atau perempuan,
Dan dalam cerita ini, tampaknya sih girl power, tapi yang gw rasakan sih enggak, Dan hal itu sangat gw rasakan pada adegan terakhir film ini.
Pada akhirnya kedudukan perempuan dan laki2 sama saja. Tidak ada yang superior. Salah satunya bisa saja sangat berpengaruh bagi yang lain, lalu tiba2 bisa terlupakan begitu saja,
Bahkan gw sempat berpikir, apa memang bener sesungguhnya tidak ada yang namanya true love ?
Asal kamu open heart, tunggu saja sampai kamu ketemu yang lain, maka patahlah anggapanmu bahwa dia adalah cinta sejatimu.
Dia hanya seseorang yang sempat singgah dalam kehidupanmu.
Seperti itukah ??

Rachel Hansen : Tom, I know you think she was the one, but I don’t. Next time you look back, I think you should look again.

So guys, what is love exactly ?

What Is 'Normal' Anyway?
sakurai_jo
Juno
Directed By : Jason Reitman
Cast : Ellen Page, Michael Cera, Jennifer Garner, Jason Bateman, Allison Janney, JK Simmons
Image and video hosting by TinyPic
Plot :
Sixteen year-old Juno MacGuff is the type of girl that beats to her own drummer, and doesn't really care what others may think of her. She learns that she's pregnant from a one-time sexual encounter with her best friend, Paulie Bleeker. Juno and Paulie like each other, but don't consider themselves to be exclusive boyfriend/girlfriend let alone be ready to be a family complete with child.
The next step is to find prospective parents for the yet unborn child. In the Pennysaver ad section, Juno finds Mark and Vanessa Loring, a yuppie couple living in the suburbs. Juno likes the Lorings, and in some respects has found who looks to be a kindred spirit in Mark, with whom she shares a love of grunge music and horror films. Vanessa is a little more uptight and is the one in the relationship seemingly most eager to have a baby. On her own choosing, Juno enters into a closed rather than open adoption

My Note :

Ellen Page memang pantas menjadi perempuan muda yang smart dan easy going seperti Juno. Melihat ceplas ceplos smart-nya, gue mau ga mau keinget sama temen gue yang beda umur lumayan jauh sama gue. Dia jauh lebih muda. Anak band, tomboy serta perokok dan addict pada kopi. Selera musiknya-pun lawas, sama dengan Juno. Bersamanya, gue merasa nyaman, meskipun jadi merasa gue ini yang lebih muda dari dia. Denger dia bicara, selain enak, nyambung, juga banyak manfaatnya. Paling tidak gue jadi tambah wawasan, dan kita jadi bisa saling tukar pikiran.
For awhile, gue merasa lega tidak perlu berbicara dan mendengar orang bicara yang baik – baik soal diri mereka sendiri, soal merk bedak, model baju, gossip dan pekerjaan. Somethin’ else. Dia selalu punya hal lain untuk dibicarakan.
Gue jadi sadar betapa mencari kawan perempuan seperti dia seperti mencari jarum dalam jerami. Bahkan gue saja yakin kalau gue ini tidak seperti dia, karena gue masih suka make up, mencari model baju terbaru, gengsi dan kepingin tahu gimana caranya cari uang sebanyak – banyaknya !
Meskipun tidak bisa dibilang hilang kontak, gue udah ga tau lagi dia ada dimana dan bagaimana kabarnya.
Cuma kangen aja sama dia.
Dan melihat Juno, gue seperti melihat dia. Image and video hosting by TinyPic

Gue pengen banget seberani Juno dalam bertindak dan berani bertanggung jawab dengan apa yang sudah dilakukannya.
Andai kata kala gue remaja gue bisa dengan ringan menjawab ke bokap tatkala beliau tanya ke gue kemana aja gue seharian dengan kalimat yang Juno ucapkan pada ayahnya saat ia dengan perut yang sudah membuncit pergi seharian selepas pulang sekolah : ‘Just out dealing with things way beyond my maturity level’ dengan nada tetap respek. Hanya berusaha untuk jujur pada orang tua namun dengan memberikan batasan privasi seolah memberi tanda bahwa ‘ini adalah urusan saya, biar saya yang handle, kalian tidak perlu khawatir karena saya tidak melakukan hal aneh – aneh dan saya akan bertanggung jawab atasnya’

Kagum atas Juno, membuat gue berpikir soal segala hal yang sifatnya normal. What is normal anyway ? Lahir, hidup, (harus) menikah dan (harus) punya anak. Semuanya dengan cara yang normal. (harus)ber pendidikan tinggi, (harus) bekerja di kantor, (harus) menemui pasangan hidup seiman / sesuku / seperguruan, bibit, bobot, bebet dan bertemu dengan cara yang normal (atau mungkin dijodohkan).

Dalam ‘Juno’, pasangan Vanessa & Mark Loring lah yang tampaknya normal dan baik – baik saja, namun ternyata mereka justru bermasalah, hingga Juno sempat melontarkan kalimat : I’m just losing my faith with humanity.
Banyak orang di sekitar kita tampak normal, namun mereka ternyata bermasalah.
Jika kemudian yang dianggap ‘tidak normal’ digunjingkan, dicibir, dijauhi, harus kita apakan orang – orang normal yang bermasalah ini ?
Dikasihani, mungkin ?!

Juno :
… and I know people are supposed to fall in love before they reproduce, but I guess normalcy isn’t really our style

So, bagi kita yang masih normal / merasa normal, pernahkan kamu paling tidak sekali saja berfikir, membayangkan, bertutur atau bertindak yang tidak normal ?

Kalau gue, pernah.
Atau malah sering ya ?
Jangan – jangan gue juga ga normal !

Suatu Hari Saat Langit Kelabu
sakurai_jo
Elephant
Directed By : Gus Van Sant
Cast : Alex Frost, Eric Deulen, Elias McConnell

Image and video hosting by TinyPic

….. ..Alex enters the cafeteria and sits down (where he has apparently already opened fire, as a body can be seen in the background). Eric meets up with him, and they have a brief conversation, after which Alex shoots Eric in mid-sentence. Alex then leaves the cafeteria, showing no emotion over shooting Eric, and discovers Carrie and Nathan in a freezer. He tauntingly recites Eeny, meeny, miny, moe to them to decide whom he should kill first. The film then ends without resolution; the last shot of the film is similar to the opening, a cloudy blue sky.


My Note :

Film ini katanya controversial, dan merupakan adaptasi bebas dari peristiwa Columbine High School massacre yang menghebohkan itu. Seperti yang mungkin sudah kamu tahu, peristiwa permbunuhan yang terjadi di kota Littleton, Colorado tersebut dilakukan oleh dua orang murid SMA bernama Dylan Klebold & Eric Harris dan ‘sukses’ membunuh 12 murid lain, seorang guru dan mereka berdua sendiri terbunuh. Gus Van Sant meng-adaptasi real event itu dengan sebebas – bebasnya, termasuk dari cara penyutradaraannya. Gue dapet film ini dari suami gue yang kebetulan download film ini. Nonton sekali, gue cuma kuat sampai seperempat jam saja. Gaya penyutradaraannya benar – benar melelahkan, nyaris membosankan untuk diikuti. Selain memang lambat, banyak adegan – adegan ga penting yang muncul. Ngapain coba dia shoot awan di angkasa sampai satu menit (jangan – jangan lebih ) Kurang lebih satu minggu setelahnya gue tertantang untuk menuntaskannya. Dan kali ini, gue tidak bergeming. Setelah mengikutinya secara utuh, gue baru bisa merasakan kenikmatannya. Ada gaya penyutradaraannya di film ini yang paling gue suka, yang juga gue temui di film Memento, November, 11:14 atau Before The Devil Knows You’re Dead (mungkin ada yang lain ?). Gue menyebut keempat film itu, karena gue suka setengah mati. Alur-nya yang maju mundur, sambung menyambung dan mengisahkan banyak kepala, sangat menyenangkan untuk diikuti.
Soal cerita, feel-nya juga indie banget. Kamu mungkin akan terkaget – kaget melihat kehidupan anak – anak sekolah seperti casts di film ini (especially untuk 2 anak yang melakukan penembakan tersebut).
Menurut gue, justru dibuat dengan semangat indie maka film ini terlihat real. Tidak dibuat – buat. Apalagi first names untuk karakter dalam film ini kebanyakan tidak berubah dari nama asli mereka.
Gue ga tahu dimana saja film ini diputar, diedarkan atau memang perlukah sebuah promosi. Kalo dari segi komersialitas sih film ini jauh. Ga mungkin bikin film ini untuk cari untung. Tapi ga tahu juga ya kalo banyak yang tertarik dikarenakan magnet real event dari Columbine massacre.
Tapi yang jelas, film ini membuat gue kepingin nonton film – film sejenis, atau paling tidak film – film non Hollywood yang lain.
Yang jelas, film yang diproduseri Diane Keaton ini sangat menarik untuk diikuti.
 
 
Ini adalah foto dari kejadian The Columbine Massacre
Image and video hosting by TinyPic

Carpe Diem
sakurai_jo
Dalam bahasa Inggris katanya sih artinya ‘seize the day’ atau dalam bahasa kita bisa diartikan ‘ raihlah harimu’.
Gue memilih quote ini sebagai judul blog, karena itulah yang terlintas pertama di kepala gue. Dua kata penyemangat yang mudah diucapkan, namun sulit untuk diwujudkan bagi paling tidak sebagian orang.
Quote ini gue temukan saat menonton film berjudul Dead Poets Society, film cantik yang diperani oleh Robin Williams. Mungkin lo mesti nonton film-nya dulu baru benar – benar tahu apa yang dimaksud.
When things in your life become stagnant, no longer happy with what you're doing, ngerasa hidup lo ‘ga maju maju’, gue rekomendasikan film ini sebagai film motivator, disamping What’s Eating Gilbert Grape dan Good Will Hunting. Lo mungkin akan bisa belajar banyak dari film-film itu.
Amin.
Tapi yah… paling tidak, bagi gue dua kata itu bisa menjadi segalanya. Ya cambukan, ya pengingat, bahkan juga warning. Tetapi juga media yang gue harapkan bisa menyentil gue untuk selalu bisa bersyukur. Kerap kali gue bilang kalo gue belum bisa meraih mimpi gue, dan mempertanyakan usaha dan ‘rezeki’ dari Tuhan yang sudah diberi. Gue mesti bangga pada diri gue dengan segala pencapaian yang sudah gue dapat, segala pengalaman hidup yang sudah gue alami, dan dengan izin dari Tuhan yang bisa membuatnya menjadi kenyataan satu demi satu meski dengan perlahan. Hanya mengenai masalah waktu
 
Yah, mungkin saja bagi sebagian orang, gue ini belum kemana – kemana. Tapi tidak adil bagi diri gue sendiri jika itu yang terus menerus gue gumamkan setiap saat, apalagi jika harus mendata rentetan penghalangnya.
So, carpe diem kawan – kawan .... dengan caramu masing – masing.
May God Bless U !

NB.
Oya, gue baru saja nonton ‘Waiting…’. Kali ini barisan Ryan Reynolds, Justin Long dan Anna Faris yang maju. Ah, film sekelas American Pie, pikir gue.
Dan memang bener.
Gila.
Dan, gue tontonlah film ini atas dasar ‘iseng’, cari film ringan buat ditonton sebelum berangkat kerja ( yeah, nonton sebelum berangkat kerja. Hampir semua kawan dan handai taulan menyiratkan ekspresi ‘WHAT ?!!!’ tiap gue cerita mengenai kebiasaan gue itu ) .
 
 
Tapi ternyata gue terkesan.
 
Seperti banyak film lain ( terutama yang indie ), ternyata film ini juga punya misi. Dia mempunyai ‘bahasa’ sendiri untuk mengutarakan Carpe Diem-nya.
So guys, create your own 'penis-showin' game ! :) (methaphorically speaking, that is ;p he he )
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Luv 'n Peace.

In The Name Of Children
sakurai_jo
Gue di kantor, pagi, tergopoh2 menuju lift
Teman : Hi dik ! Pagi, santai amat nih bajunya..
Gue : Hi mbak ! Iya, kalo mesti pake seragam dari rumah, bisa bau harum segala rupa! Bau knalpot, bau rokok, bau ketek he he he ( dan jawaban ini sudah kesekian kalinya gue lontarkan ke teman – teman yang mengomentari soal baju casual yang gue pake setiap berangkat kantor)
Image and video hosting by TinyPic
Kita berdua masuk ke dalam lift.

Teman : Belum isi juga ?
Gue : Belum (gue selalu tegang kalo ditanya soal ini)
Teman : Kenapa ? Emang rencana ditunda ?
Gue : (heeere we go ! gue malas menjawab pertanyaan semacam ini, entah itu basa basi maupun tidak) Enggaaak. Biasa aja kok mba. Umur juga udah segini, mau ditahan apanya (tertawa garing)
Teman : Udah usaha ke dokter ?
Gue : Nggak mbak. Usaha sendiri sih teruus, tetapi memang kita belum periksa ke dokter.
Teman : (mengangguk – angguk ) Memang sudah berapa lama kamu menikah ?
Gue : Engg… kurang lebih dua tahun
Teman : (dengan nada meninggi) Ohhh, nyantai aja, dik ! Aku saja sudah lima tahun menikah, dan belum juga dikasih. Aku malah sudah ke dokter, dan kami berdua sehat – sehat saja, udah usaha yang lain juga malah. Tapi memang belum dikasih. Padahal sudah pingiin sekali. Kamu masih dua tahun, nyantai saja ( lift sampai di lantai yang ia tuju ). Yuk, dik.
Dan gue bernafas lega….
Image and video hosting by TinyPic
Gue dan berita di TV
Melihat bayi2 yang dibuang di dalam kardus dan membiru

Gue di angkot.
Gue lihat supir angkot ngobrol seru dengan dua orang kawannya yang bersempit2 menduduki bangku di samping supir.
Tiba – tiba mereka terdiam, dan kesunyian dipecah oleh orang yang duduk paling pinggir. Matanya menerawang keluar jendela angkot sementara tangan dengan jari telunjuk dan tengah mencengkeram sebatang rokok, ia tumpangkan di pinggir jendela.
Teman Supir : Ck ! Bini gue lahiran lagi !
Kedua kawannya tertawa.
Supir : Ha ha ha ha … makanya diplester ! Punya lo yang diplester !
Teman Supir : (bergumam kurang jelas)
Supir : Elo sih ! Mentang2 enak, lo tancep terus, jebol dah ! Ha ha ha ha !
(Lalu dengan tanpa beban ia melanjutkan ) Elo tahu anak gue yang kedua kan ? Nah, anak peyesalan noh ! Gue pikir aman, tau – tau bini gue gendut lage. Gue tanya ke die “Gimane nih ? Kok jadi lage ?” eh dia jawab “Iye bang…lupa” (mungkin yang dimaksud istri si supir ini adalah si istri lupa pasang spiral, minum pil KB atau lupa jadwal mens-nya). Akhirnya lahir dah nyang ntu, anak kedua gue !
Image and video hosting by TinyPic
In the name of all children in the world..
Tiba – tiba gue terharu biru….

Ketika Ia Mulai Berpikir
sakurai_jo
fAku sekarang ini sedang berfikir tentang hidup, begitu ia menyebut.
Padahal hanya menurut anggapannya saja ia berfikir soal hidup karena orang lain akan berpendapat bahwa ia hanya menocba untuk mengingat – ingat. Mengingat – ingat tentang hari – harinya saja.
Kebiasaannya ‘berfikir’ seringkali membuat berang penyelianya di tempat kerja. Ia dianggap sering melamun. Tapi ia adalah seorang pekerja yang baik. Paling tidak begitulah menurut anggapannya, karena ia merasa telah menjalankan Job Description sebagai Telephone and Fax Operator & Administrator yang diberikan Perusahaan pembuat limun lokal itu dengan baik.
Telephone berdering nyaring mengakhiri waktu ‘berfikir’ nya. Suara seorang wanita dengan nada tegas mencari Kepala Bagian Pembelian, dan seperti yang sudah diduganya, pak kepala dengan bicara yang tersendat memintanya untuk memberikan jawaban ‘tidak ada di tempat’. Dan seperti juga dugaannya, wanita di seberang telephone menyumpah panjang pendek, pun menyumpahi dirinya.
Hal ini membuatnya merenung. Berpikir apakah memang ia pantas untuk disumpahi mengingat dengan perpeluh dingin ia memberanikan diri untuk menyampaikan pada induk semangnya bahwa ia harus menunggak biaya kost bulan ini sementara ia juga ingat pernah berpeluh dingin saat menyampaikan surat dari kedua orang tuanya kepada kepada bagian Tata Usaha di sekolahnya dulu saat ia mesti menunggak biaya sekolah sampai tiga bulan.
Hari ini sampai menjelang siang, terhitung sudah ada lima telephone yang ia terima dari para supplier yang kecewa karena tagihan mereka belum juga kunjung lunas terbayar, atau tagihan jatuh tempo yang harus mundur lagi.
Akhir – akhir ini memang sering sekali ada telephone semacam itu, dan itu membuat perasaannya tidak enak.
“Perempuan harus lebuh pintar mengatur pengeluaran” begitu pernah ibunya berujar suatu hari. Namun, untuk tiga bulan mendatang rasanya agak sulit baginya untuk dapat mengatur pengeluaran sedemikian rupa, semenjak tanpa ia sadari apa yang sesungguhnya terjadi, ia bersama dua rekan kerjanya dituduh menjadi penyebab kerusakan yang cukup serius pada alat penerima telephone di ruang kerjanya. Perusahaan bersikeras menyatakan bahwa mereka harus menaanggung 100 % biaya perbaikan, dan dicicil selama tiga bulan gaji. Itu berarti mereka harus kehilangan kurang lebih 50 % dari gaji mereka per bulannya.
Telephone tiba-tiba berdering lagi.
Kali ini dari Pak Sudarman, pemilik Perusahaan. Beliau minta disambungkan dengan Pak Rubyanto, direktur. Kali ini tentu saja ia tidak perlu menjawab ‘tidak ada di tempat’. Hanya saja yang membuatnya heran adalah entah kenapa suara Pak Sudarman terdengar lesu akhir – akhir ini, padahal biasanya bicara pelan saja sudah terdengar menggelegar.
Yah, mungkin sedang banyak pikiran, ia membatin. Tapi kemudian tiba – tiba menghela nafas dan tersenyum.
“Ya, tidak mungkin,” ia berkata pelan. Mana bisa seseorang yang segala kebutuhan hidupnya telah tercukupi harus merasa lesu,meskipun ia sedikit banyak tahu bahwa hasil penjualan produk limun lokal perusahaannya beberapa bulan belakangan banyak pengalami penurunan. Drastis, begitu kata Ibu Andini dari bagian Penjualan. Tapi itu pasti bukan hal yang membuat Pak Sudarman menjadi lesu. Bahkan orang seperti dirinya, adik kecilnya beserta kedua orang tuanyapun tidak pernah bener – benar merasa lesu menghadapi hidup, pun ketika dalam satu hari mereka harus ‘puas’ makan nasi berlauk garam, atau dengan satu bungkus mie rebus yang dijadikan lauk untuk mereka berempat, atau bahkan dengan gembira menangkap beberapa bekicot yang berkeliaran di kebun untuk dimasak.
Ayahnya bahkan masih sempat terbahak sesaat setelah ia diperhentikan dengan hormat dari pekerjaannya, karena fitnah dari salah satu rekan kerjanya ayahnya yang semula beliau anggap sebagai karib.
“Ayah baca di koran, katanya banyak restoran terkenal memasak bekicot. Malah ada yang dijadikan menu istimewa Apa salahnya sekarang kita coba. Malahan hari ini kita bisa makan daging, “ kata ayahnya sambil tersenyum.
Mungkin hal itu yang menyebabkan ibunya bisa memasak bekicot dengan berbagai macam bumbu yang sedap. Yah, sebetulnya tidak sedap sekali, tapi lebih nikmat daripada cuma nasi garam.
Telephone berbunyi lagi. Kali ini bukan dari luar, melainkan dari ruang Pak Rubyanto.
“Ada beberapa lembar surat penting yang harus kamu fax. Rahasia. Sekretaris saya yang akan membawanya ke ruangan kamu dalam keadaan tertutup. Jangan sampai ada satu orangpun yang tahu, dan kalau ada pihak atau orang lain yang tahu, kamu yang harus bertanggung jawab,”
Pesan Pak Ruby jelas, dan sebenarnya di tidak pernah ambil peduli dengan ratusan lembar surat atau pesan yang ia fax, atau fax yang ia terima untuk Perusahaannya. Tapi rupanya kata ‘rahasia’ malah tak urung membuatnya tertarik, meskipun ia bukan termasuk orang yang selalu ingin tahu. Tapi toh ketika akhirnya setelah ia menerima beberapa lembar surat yang dimaksud, ia sama sekali tidak mengerti isinya dan itu lebih melegakan. Rahasia atau bukan, lebih baik ia memang tidak usah mengerti. Tapi yang cukup mengherankan adalah bahwa akhir-akhir ini memang sedikit lebih banyak surat – surat rahasia yang di-fax, mungkin juga banyak surat rahasia yang dikirim.
“Jangan terlalu ingin tahu urusan yang bukan urusan kita, tidak sehat untuk jasmani maupun rohani. Apalagi hal yang memang tidak semestinya kita tahu. Bisa kena sakit mental kita,” tiba-tiba ia teringat ayahnya pernah berujar tatkala mendengar ibunya membicarakan salah satu tetangga yang kata orang sudah menjadi istri simpanan seorang pejabat, dan masih tetap berganti – ganti pasangan hampir setiap malam, “ Yaah, meskipun kalo harus berpikir soal urusan kita terus kita juga bisa sakit mental !” sambung ayahnya lagi sambil terbahak saat ia mencoba menyalakan puntung rokoknya.
Dan hal itu juga akhirnya membuatnya bisa tersenyum, apalagi sekarang adalah waktunya istirahat siang.
Namun rupanya saat istirahat tidak membuatnya berhenti untuk berfikir. Hari ini merebak berita burung bahwa gaji pokok mereka akan dipotong sekian persen karena tidak mampunya Perusahaan membayar penuh gaji karyawan sebab penjualan produk terus merosot. Ada juga yang bilang masing – masing karyawan ‘dipersilahkan’ untuk ‘menikmati’ libur selama satu minggu tiap bulannya, dan begantian bekerja.
Aaaah, rupanya sekarang bukan cuma Pak Sudarman yang lesu, karena mulai siang ini hampir seluruh penghuni Perusahaan ini mulai menunjukkan ekspresi ‘ kurang sehat’. Dan hal ini ( enatah itu berita burung atau bukan ) kembali membuatnya berfikir.
Ooh, bukan berpikir, tapi memijit-mijit kepala karena tiba – tiba pusing.
Saat itu beberapa orang di tempat kerjanya masih sibuk berbisik-bisik dan menyebar berita burung, mereka tidak ada capek-capeknya mengatakan bahwa sebenarnya Perusahaan masih cukup kuat kalau saja keuntungan Perusahaan tidak jatuh ke tangan – tangan yang tidak bertanggung jawab, sehingga gaji karyawan mesti disunat. Ada juga yang mengatakan bahwa Pak Sudarman memiliki wanita di luar kota, dan mesti mengeluarkan banyak uang untuk menghidupi wanitanya itu. Bahkan bukan hanya satu wanita. Selebihnya mereka, orang-orang di tempat kerjanya Cuma berbisik-bisik sambil terkadang terkikik, terkadang bicara panjang lebar bagai menganalisa apa yang tengah terjadi dan mengahkimi keadaan.
Dia cuma diam, karena ia masih pusing.
Ia jadi teringat bagaimana ibunya setiap bulan harus menyiapkan tiga puluh buah amplop yang masing-masing diisinya dengan sejumlah uang.
“Selain supaya uangnya cukup untuk belanja dan keperluan satu bulan, dengan ini kita juga bisa belajar untuk menahan diri dan belajar mengatur diri sendiri,” begitu ibunya berujar. Namun tak urung ketika adik kecilnya sakit campak, beberapa buah amplop mesti dikosongkan dalam sehari, dan setelah itu dilihatnya sang ibu sering memijit-mijit kepala.
Saat ini ia mengetahui bagaimana sepenuhnya persaan ibunya saat itu . Yang dia merasa heran adalah mengapa mendengarkan orang bicara saja sudah membuatnya pusing.
Ketika waktu istirahatnya usai, dan ia kembali masuk ke ‘bilik’ kerjanya, ia mulai memikirkan bagaimana cara ia mengatur keuangan nanti apabila gajinya yang tinggal 50% itu mesti disunat lagi. Saat itulah telephone berbunyi.
“PT. Jaya Makmur Abadi, selamat siang, ada yang bisa saya bantu?” ia menyapa.
Seorang wanita. Dan ia menjadi Pak Ruby yang kebetulan memang tidak ada di tempat semenjak saat istirahat siang.
“Wah, keluar ya ? Padahal jam segini Bapak paling ngga suka dihubungi melalui Phone Cell .Begini saja mbak , tolong sampaikan ke Bapak istrinya menelphone.Bilang saya jadi beli cincin berliannya yang kemarin dilihat-lihat. Bilang juga tiket yang untuk ke Singapore sudah saya pesankan untuk lusa. Jangan tidak disampaikan lho mbak, soalnya hari ini mungkin saya tidak bisa ketemu Bapak. Mungkin baru sore atau malam nanti saya telephone untuk menegaskan lagi, “
Sesaat setelah gagang telephone ia letakkan, ia tersenyum kecut. Cincin berlian. Bagaimana rasanya kalau ia bisa membelikan sebentuk cincin berlian untuk ibunya. Pasti ibunya akan sangat gembira, karena setahunya untuk cincin perkawinan saja mesti beberapa kali dijual dan dibeli lagi, sampai kemudian mesti memakai cincin sepuhan supaya pantas dilihat orang.
“Ya, menurut ibu sih kalau bisa mesti pakai, apapun bahannya,” jawab ibunya ketika ia bertanya. Ibunya tersenyum sambil terus memandangi sebentuk cincin sepuhan yang sampai saat ini masih melingkar di jari manis beliau itu. Entah kenapa ibunya masih bisa tersenyum, sementara ia tahu persis saat itu ibunya sedang gundah.
Kala ia diterima bekerja, setelah dengan susah payah ayahnya membiayai pendidikannya yang D1 itu, kedua orang tuanya senang bukan kepalang. Serasa mereka telah berhasil menyelesaikan satu babak dari kehidupan mereka, dan mulai membuka babak baru. Bukan berarti mudah, tapi juga bukan tidak mungkin akan lebih baik dari babak sebelumnya. Dan ketidak mudahan itu mulai tercermin saat satu-satunya lapagan kerja yang menerimanya terletak di luar kota. Tak jauh dari kota tempat tinggalnya memang, namun tetap saja di luar kota. Sempat ia harus bolak-balik setiap hari, namun ternyata itu merupakan pemborosan yang luar biasa, karenanya ia memilih kost, ditempat yang bukan saja paling dekat di tempat kerjanya, tapi juga paling murah.
Tidak mudah mencari tempat seperti itu, dan akhirnya ia mendapatkannya, meski tetap saja ia harus berjalan selama hampir setengah jam dari tempat kostnya ke tempat kerja. Itu tidak masalah baginya, karena ia sering kali tidak perlu berjalan, disebabkan pada jam-jam masuk kerja, ia bisa menunpang teman kerjanya yang kebetulan lewat berkendaraan.
Hari itu ditutup dengan adanya satu buah pengumuman yang terpampang di papan pengumuman karyawan, yang menyatakan bahwa minggu depan akan diadakan General Meeting. Pak Rubyanto sendiri yang akan memimpin, dan seluruh karyawan tanpa terkecuali diharuskan untuk datang.
Hmm.. ada apa kiranya ? dia mulai berfikir, padahal General Meeting terakhir seingatnya sudah kira- kira dua tahun lalu, ketika dibahas soal pergantian pimpinan dan kebijakan, dan setelah itu sama sekali tidak pernah diadakan. Dalam khayal manisnya ia mengharapkan sesuatu yang bagus bakal disampaikan besok, entah itu kenaikan gaji, bonus, uang makan, kredit pemilikan rumah, atau hal semacam itu. Namun tak urung ternyata ‘sesuatu yang gelap’ terasa lebih berkuasa memenuhi pikirannya saat ini, dan ia sangat takut hal yang buruk benar-benar akan terjadi.
Kalau ada yang mengatakan, jangan berpikir tentang hal yang buruk, karena pikiranmulah yang membuatnya benar- benar terjadi, mungkin hal semacam itulah yang terjadi seminggu kemudian. Ia tidak tahu teori itu benar atau tidak, tapi yang pasti apa yang sudah bertengger dalam sudut gelap di kepalanya selama hampir satu minggu ini ternyata benar adanya, pun kabar burung yang didengarnya lewat kasak kusuk saat istirahat siang seminggu yang lalu, disusul hari – hari berikutnya.
Acara General Meeting diwarnai dengan wajah – wajah tegang dari karyawan, pun saat pihat Perusahaan memulai dengan kata maaf berkali-kali dan Pak Rubyanto mengucapkan kalimat panjang yang mengharu biru, yang pada intinya dengan berat hati Perusahaan menyampaikan hal – hal yang kurang lebih sama dengan yang menjadai topik hangat para karyawan selama satu minggu ini. Banyak rekan kerjanya yang langsung ribut, marah-marah dan beberapa diantaranya langsung mengajukan pertanyaan bertubi-tubi sehingga membuat pihak Management kewalahan.
Tapi ia cuma diam.
Tiba-tiba saja berbagai wajah-wajah muncul di kepalanya. Ayah, ibu, adik, bahkan dirinya sendiri. Dan berbagai peristiwa silih berganti dalam adegan yang begitu cepat melompat lompat dalam satu ritme yang tidak berurutan antara masa lalu dan khayalan kemungkinan masa depannya. Lalu muncul wajah lain. Kawan-kawan lamanya, bekas rekan kerja ayahnya, pengurus tata usaha di sekolahnya dulu.
Keesokan harinya keadaan semakin parah. Beberapa karyawan melancarkan demo. Ketika Management Perusahaan meminta waktu untuk membicarakannya dan dianggap terlalu lama, diantara mereka mulai melakukan perusakan pada lading tempat mereka mencari nafkah. Kaca-kaca dipecah, meja dan kursi dirusak, mobil Pak Direktur dibakar, sampai kemudian yang berwajib datang.
Telephone di ruang opereter berdering ratusan kali, tapi ia tidak perduli. Siapa yang perduli telephone karena saat ini ia sedang merasa heran. Keheranan yang amat sangat, karena mengingat bahwa setiap hari dia selalu bisa berfikir tentang sesuatu, ternyata hari ini otaknya terasa buntu.
Dua hari setelah kejadian tersebut, ada beberapa kebijakan Perusahaan yang akhirnya diralat. dan bersedia mengabulkan beberapa hal yang menjadi tuntutan karyawan, tapi dengan satu konsekwnsi yang juga mesti harus diterima dengan lapan dada oleh karyawan, karena Perusahaan mengaku sudah benar-benar pailit. Perusahaan menyatakan akan mengadakan perampingan !
Bagi karyawan yang belum dua tahun bekerja, atau dianggap kurang mampu, dengan hormat dimohon untuk mengundurkan diri, dan yang satu ini tidak bisa dibantah lagi. Pihak Perusahaan telah mengundang beberapa wakil karyawan untuk berunding, dan memang begitulah hasilnya.
Sebuah dilema, ada yang mengatakan begitu.
Tapi ada juga yang tenang – tenang saja. Oh, ya, tentu saja, masa kerja mereka sudah melewati tahun kedua, dan sepanjang bertemu dengan juniornya mereka menepuk – nepuk punggung mereka dan berusaha untuk menenangkan. Basa basi mungkin saja, karena sinar mata mereka tetap saja tidak bisa berbohong bahwa saat ini mereka sedang berlega hati.
Baginya, dilema atau bukan, basa basi atau bukan, hasilnya tetap sama baginya.
Kosong.
Kalau dipikir seharusnya ia tidak perlu terkejut mendengar berita buruk, ia sudah terlalu sering mendengar berita yang kurang bagus. Hanya saja baru entah kenapa baru kali ini ia merasa ada sebuah tanggung jawab besar yang terpaksa harus direnggut darinya. Tanggung jawab besar dirinya kepada segenap anggota keluarga.
Ia tidak tahu apakah ia sudah tidak bisa lagi berpikir, atau karena terlalu banyak berpikir.
“Kamu mendapatkan pesangon lima bulan gaji, dipotong pelunasan kerusakan pesawat penerima telephone tempo hari, dan kamu masih diwajibkan masuk kerja sampai akhir minggu ini, dimana saat kamu terima uang pesangon kamu. Kami ucapkan terima kasih atas pengabdianmu selama hampir dua tahun ini, yang tentu saja tidak akan pernah kami lupakan. Dan bila ada kesempatan lagi, pasti kami akan memanggil kamu kembali. Kamu akan selalu menjadi prioritas utama. Ada yang ingin kamu sampaikan pada Perusahaan ? “ begitu penyelianya berujar, dan ia menggelengkan kepala. Penyelianya tersenyum dan menyalaminya.
Entah bagi orang lain, tapi baginya itu adalah senyum paling memuakkan yang pernah ia lihat, dan berharap sepanjang hidup selanjutnya tidak akan menemui senyum semacam itu lagi, dan ingin sekali rasanya ia menyumpah kali ini, membayar makian orang – orang di pesawat telephone yang ia terima setiap hari.. Menyumpah pada orang di depannya, pada Pak Ruby, pada teman kerjanya yang masih bisa bekerja, pada kawan sekolahnya dulu, pada guru-gurunya, rekan kerja ayahnya, semua ! Bahkan pada dirinya sendiri.
Tapi ia cuma diam, berterima kasih dan pergi meninggalkan ruang kantor penyelianya, dan kembali ke biliknya yang sempit. Ya, ia harus kembali ke bilik kerjanya lagi.
Telephone berdering berkali - kali, dan ..
“Selamat siang, PT. Jaya Makmur Abadi, ada yang bisa kami bantu ? …”
Suara para penagih yang suka memaki itu lagi . Suara – suara yang masih bisa terngiang bahkan saat gagang telephone sudah berada pada tempatnya.
Disentuhnya perlahan beberapa bagian dari peralatan kerja yang ada di sekitarnya lembut, dan ia teringat kembali ayahnya berkata,
“Makanlah daging bekicot ini. Enak rasanya. Restoran – restoran terkenal saja menyajikan daging bekicot sebagai menu istimewa,……..”

?

Log in