Poor Flowers
sakurai_jo

Suddenly,there are things that occurred in my head when I heard my friend’s story about flowers.

I am kindda sad

There is nothing wrong about flowers.

They’re look good, smells good most and some others are beneficial.

But this my friend of mine hates them for some reason that seems trivial.

When she was a child, she really love flowers, just like another little girls.

Until one day, for one good reason she picked some wild flowers and gave them to her grand mother.

Her grand mother mad at her, unexpectedly.

Granny threw the flowers away and told her that the flowers are dirt and forbade her to play with wild flower.

Since then, she really hates those beautiful plants.

For her, flowers means trouble.

So I kindda sad to hear that, coz I know flowers have not anything to do with this case.

That story makes me think that we have to be really careful to say or to do something to another.

Coz you will never know how one thing can be very influential to one’s life

 

 



Important Thing
sakurai_jo
Dua hari lalu Ayah gue menelpon. Dua kali.
Yang pertama diceritakannya bahwa ia menemukan jam yang berjalan mundur, mirip dengan penunjuk waktu yang ada pada sebuah Negara di Eropa Timur (is that right?) Dengan nada ceria ia sangat beruntung mendapatkan jam tersebut (belakangan melalui browsing di internet, pada sebuah web on line shopping gue ketahui bahwa jam seperti itu memang di produksi di Surabaya, meskipun gue ga tahu yang dibeli Ayah gue itu produksi mana ).
 
 
Yang kudua kali (kira-kira setengah jam kemudian), masih berkisar mengenai penunjuk waktu terbalik itu, ia bertanya ke gue apakah gue pernah menyaksikan salah satu acara di Metro TV bertajuk ‘Do You Know’. Di Negara itu, selain bahwa penunjuk waktu atau jam diberitakan terbalik (waktu tetap maju, namun letak angka-nya terbalik, misalnya angka 3 menjadi angka 9, dsb.) Arah jarum-nya pun bukan ke kanan namun ke kiri. Dia pun bercerita bahwa di Negara tersebut segalanya serba terbalik.
 
Gue mendengarkannya baik – baik dan ber’ooh’ beberapa kali hanya dengan maksud menyenangkan hatinya saja.
Dua minggu yang lalu gue sempat mengajak teman yang datang dari luar kota untuk jalan – jalan. Mengingat bahwa sineplex yang ada di kotanya hanyalah satu jenis sineplex saja seperti banyak kota – kota lain di Indonesia, maka gue menawarkan ajakan untuk nonton di Blitz Megaplex. Well, gue sangat mencintai bioskop dan film.
Tapi dia menolak.
Dia menganggap bahwa menonton film di bioskop adalah kegiatan yang tidak menarik dan tidak penting, dan hanya orang – orang yang sudah tidak tahu lagi mau kemana untuk membuang uangnya-lah yang akan menuju bioskop untuk menonton film.
 
 
Gue jadi berpikir bahwa hal yang dianggap penting atau begitu menariknya bagi orang lain, belum tentu sepenting dan semenarik itu bagi kita.
 
Demikian pula sebaliknya, jika saat ini kita tengah begitu bahagia karena menemukan / melakukan hal yang sedemikian penting dan menarik bagi kita, maka kita perlu juga meningkatkan kesadaran bahwa di suatu tempat (bisa saja tempat yang sangat dekat) akan selalu ada orang yang menganggapnya tidak penting, atau bahkan tidak menarik sama sekali.
 
 
It happens !

When A Man Loves A Woman
sakurai_jo
Apa sih yang kita tahu soal cinta ?
Mungkin kamu tahu banyak, dan gue enggak.
Mungkin juga kita lebih banyak merasakan daripada mengetahui.
Meng-artikan dengan jelas cinta itu apa dan yang mana juga kita masih sering agak kebingungan
Ada teman yang memandang, cinta sama saja dengan asmara. Baginya, cinta sedikit lebih ‘kotor’ karena dipengaruhi oleh nafsu. Kedudukan yang lebih tinggi darinya ditempati oleh Kasih.
Sementara gue sendiri menilai cinta itu segalanya.
Didalam cinta itu lah ada kasih, sayang, kemuliaan, keindahan, asmara, keceriaan, menerima, memberi, suci, dsb.
Dari panggung cinta asmara, banyak cerita – cerita yang setiap saat dapat kita dengar, baca dan lihat.
Dari pengalaman kita dan kawan, dari cerita di buku, lagu, televisi dan film.
Entah karena gue ini kurang gaul atau apa, gue selalu berpikiran bahwa sosok – sosok ‘Romeo’ dalam film adalah sosok murni rekaan (terutama pada jaman kini), meskipun gue tahu, karakter dalam film merupakan hasil pengamatan dari karakter sosok manusia yang sebenarnya ada.
Katanya, sekarang ini perempuan lebih banyak jumlahnya daripada laki – laki. Dan karena gue perempuan dan semuanya gue lihat dari sudut pandang perempuan, gue tidak terlalu percaya pada romantisme harlequin milik laki - laki.
Bagi gue, ketulusan tidak akan pernah ada pada bunga dan cokelat.
Beberapa sahabat dan saudara perempuan pernah bertekuk lutut pada bunga dan coklat, dan akhirnya kecewa. Beberapa dengan cara yang masih bisa diterima, beberapa yang lain dengan cara keji. Contohnya : mereka ternyat hanya menjadi bahan taruhan.
Saat ini, katanya strategi lelaki sudah berubah. Sekarang ini jamannya segala hal yang real dan masuk akal. Mereka tidak lagi umbar janji yang muluk. Sebagai gantinya, mereka berusaha untuk tampil apa adanya dan bahkan seolah tidak perduli, playing hard to get. Perempuan-pun mulai gemas dan tergoda, tanpa menyadari itu hanya taktik belakadc. Cuma beda strategi saja. Ujung – ujungnya sama.

Berada diluar garis memuja dan dipuja, mencinta dan dicinta, gue malah jadi tahu, Romeo sesungguhnya memang ada.
Dia ada dalam diri orang – orang yang bisa gue sebut dan anggap saudara, sahabat dan teman.
Dan gue takjub.
Dalam kapasitas mereka masing – masing, rasanya mereka bisa saja berpindah hati kapan saja dan kepada siapa saja yang mereka mau. Dan menurut gue, mereka sebenarnya punya ‘modal’ yang cukup untuk itu. Satu hal yang lucunya sering tidak mereka sadari.
Yang jelas terlihat adalah, paling tidak dalam kurun waktu tertentu yang cukup panjang ( beberapa diantaranya hingga saat ini ), Romeo dalam diri mereka masih tertaut pada Juliet yang sama.

Bunga dan coklat adalah hal yang mengada - ada ?
Ternyata gue salah .
Mungkin gue mesti merubah pendapat bahwa keduanya hanya merupakan sarana, yang tujuannya tidak selalu sama buruknya.
Pemuda yang bisa dibilang sangat dekat dengan gue ini, bukan hanya akan menghujani perempuan pujaannya dengan bunga dan coklat. Dia akan bersedia melakukan apa saja untuk perempuannya. Sebut apa saja. Hal – hal yang tadinya kamu pikir cuma ada di novel – novel roman picisan, dan ia melakukannya dengan tulus.
Gue cuma ternganga mendengarnya.
Komen gue cuma singkat “lo idup di taon berapa sih ?” . Dan dia cuma meringis, tidak perduli.
Gue rasa, jika kemudian ia dikecewakan, toh ia tidak akan berubah. Dia akan melakukan hal yang sama untuk perempuan yang selanjutnya.

Ada juga Romeo yang tetap memilih perempuan yang sama, bahkan setelah si perempuan sempat main api dengan orang lain yang secara umum terlihat kualitasnya jauh dibawah Romeo gue ini. Orang tua dari laki – laki ini, yang mengetahui tingkah si perempuan, mulai tidak respek. Tetapi bisa ditebak, Romeo ini tetap kekeuh. Bukan tidak berarti ia tidak mencoba berpaling dan bukan berarti tidak ada perempuan yang mencoba menggoda dan mendekatinya.
Tetapi siapa yang bisa melawan kukuhnya hati seorang Romeo.
Begitu si perempuan kembali kepadanya, dengan proses yang cukup panjang dan berhati – hati mereka kembali mendapatkan kepercayaan dari kedua orang tua dari si lelaki.
Dan sekarang mereka berencana menikah.

Romeo berikutnya, adalah sosok yang bisa dibilang tahan banting dan tahan malu. Ia terus menerus mengejar orang yang sama bahkan setelah beberapa kali ditolak.
‘The more you ignore me, the closer I get”.

Lalu tiba – tiba muncul Romeo pecinta yang lain. Sahabatku ini adalah pemuda ber-etnis Tionghoa, yang beragama kristiani. Dengan segala kesadaran ia menjatuhkan pilihan kepada seorang perempuan ber-etnis Arab dan berjilbab. Baginya masa depan untuk mereka berdua masih fatamorgana. Dalam usianya yang muda ia tidak dulu mau berpikir ke arah sana, dan ketakutan akan kehilangan masih terlihat waktu ia bercerita soal itu ke gue.
Tetapi jika suatu saat nasib menuntun mereka kesana, apa iya mereka mesti di pisahkan ?

Apa kamu juga pernah menemui laki – laki yang rela dimaki, rela tidak diperdulikan, dan ia masih tetap memilih orang yang sama ? Gue kenal baik lelaki seperti itu. Sebelum dengan perempuannya, ia sempat putus sambung dengan beberapa perempuan, hingga ia bertemu dengan Juliet-nya ini. Tidak banyak yang ia ingin perempuannya lakukan. Hanya memberi kabar sesekali sehingga tidak hilang kontak, dan yang diterimanya adalah makian dan hujatan. Bahkan saat sang Juliet memuntuskan agar mereka ‘break’ untuk memberi ruang bagi masing – masing mereka, sang Romeo tetap intens menghubungi dan menghujaninya dengan kata – kata rindu.
Karena satu hal.
He’s still not over her.
Dan gue ga tahu sampai kapan.

Ada dua orang lelaki yang gue kenal mirip seperti itu. Yang seorang lagi sekarang bahkan sudah berbahagia hidup dengan perempuannya (or not?). Saat pacaran, gue lebih sering geleng – geleng kepala. Juliet pujaannya ini seolah memiliki kepribadian ganda. Dari detik pertama yang begitu terbakar bara, meledak – ledak membanting apa saja, dapat berubah menghiba pada beberapa detik berikutnya.

Sementara itu di tempat yang lain, gue mengenal karib seorang yang sampai saat terakhir gue kontak dengannya, hatinya masih tertaut pada seorang perempuan yang dikenalnya dulu.
Kekasih lamanya.
Saat ini ia itu sudah menikah dan tetap mengakui masih sangat mencintai perempuannya yang dulu, dan bukan istrinya.

Gue ga tahu apakah sebenarnya alasan – alasan inilah yang membuat banyak lelaki berselingkuh atau menemui kehidupan yang tidak bahagia bersama pasangan mereka masing - masing. Yang jelas kedua hal itulah yang banyak gue tahu tentang laki – laki. Selingkuh dan tidak berbahagia dengan pasangannya saat ini.

Apa ada cerita lain lagi dari kamu ?

Yang jelas, ternyata diantara riuhnya perempuan di dunia saat ini, ternyata tempat mereka yang tinggi belum juga mampu tergantikan.
Dan ini juga menyadarkan gue akan satu hal : laki – laki seperti mereka ternyata ada !

Yang Sempurna Adalah Yang Tak Sempurna
sakurai_jo
Coraline
 
Director : Henry Selick
Cast : Dakota Fanning, Teri Hatcher, Keith David
 
 
Image and video hosting by TinyPic
 
A young girl walks through a secret door in her new home and discovers an alternate version of her life. On the surface, this parallel reality is eerily similar to her real life - only much better. But when her adventure turns dangerous, and her counterfeit parents (including Other Mother) try to keep her forever, Coraline must count on her resourcefulness, determination, and bravery to get back home - and save her family. Written by Megan
 

Puaskah kamu dengan apa yang sekarang kamu dapatkan ? Bahagiakah kamu hidup bersama dengan keluarga atau pasanganmu ? Betahkah kamu dengan lingkungan di sekitarmu ? Benar tepatkah pekerjaan yang kamu lakoni sekarang ?
Well, jika kita bermasalah dengan hal – hal tersebut, selalu ada nasihat klasik untuk kita : banyak2 bersyukurlah dengan apa yang kau dapatkan dan lebih seringlah memandang ke bawah.

Gw nonton film ini dirumah, bahkan saat dimana gw ga tahu waktu itu gw kepingin nonton film apa. Otak gw masih full dengan serial drama Korea : Boys Before Flowers ( versi Korea dari Meteor Garden alias Hana Yori Dango alias Boys Over Flowers). Masih terbayang2 wajah2 drop dead gorgeous mereka, dan rasanya masih kepingin nonton ulang (you can scream : WHAAT ??!!)
Yeah yeah, just laugh out loud, I’m just a girl after all. And that’s not my fault. They are really cute ! J
Lalu… kenapa tiba2 kepingin nonton CORALINE dalam ‘kondisi seperti itu’ ?
Ga nyambung ?
Atau malah jangan2 dari sisi psikologis malah make sense ? Coba tolong yang psikolog, pendapat Anda ?
Tapi gw lagi kepingin nonton.
Anyway bagaimanapun gw putar Caroline.
Oya, soal Neil Gaiman, well bukan salah satu novelis favorite gw.
Bukan, bukan karena muatan ceritanya yang gw ga suka, cerita fantasi gw suka, makin aneh ceritanya biasanya makin gw suka. Hanya saja entah kenapa cara bertutur Gaiman masih bikin gw puyeng. Novel-nya Neverwhere ga pernah kelar gw baca. Padahal sudah saduran pula.
Mungkin gw mesti melakukan pendekatan dengan Gaiman melalui cara lain. Media novel grafis atau film-nya kayanya lebih kena bagi gw, meskipun jelas gw ga tahu apakah pesan Gaiman dalam karyanya bisa ‘nyampe’ kalo disampaikan dengan media lain, atau bahkan melenceng sama sekali.
Sudah lama ‘Sandman’ jadi incaran gw meskipun belum kebeli juga.
Mahal huuuaaaa !
Di film, Stardust oke laah, dan kini : Coraline.
Yang ada di kepala gw adalah : Nightmare Before Christmas atau Corpse Bride, dan keduanya belum pernah gw tonton sampe kelar J
Dari cara penuturannya, film ini memang mengundang rasa pilu dan tentu saja, creepy.
Suami gw lebih parah, saat ketahuan bahwa other mother adalah makhluk lain yang jahat, dia merinding. Tapi memang gw akui, deg2an. Gw merasa masuk ke mimpi buruk.
You know, the house, the circus, the garden.
Rasa pilu yang dalam gw rasakan tatkala three friendly ghosts (Sweet Ghost Girl, Tall Ghost Girl & Ghost Boy) berbicara. I’m a big fan of ‘em. Cara mereka berbicara membuat gw bergidik. Gw benar2 seperti dibawa ke alam lain. Simple, tapi efektif banget buat gw, karena gw percaya, keberadaan hantu tidak lepas dari rasa pedih dan pilu. Semakin pilu keberadaan mereka, maka akan semakin menyeramkanlah mereka.
Temanya juga tampak simple, tetapi bisa ditujukan kepada siapa saja. Soal cerita yang sederhana atau tidak, well, tergantung story teller-nya gw rasa. Bukankah cerita2 Brothers Grimm yang ditujukan bagi anak – anak itu aslinya adalah cerita2 yang menyeramkan ?!
Gw exited dengan beberapa adegan dimana Coraline selalu meralat setiap orang yang memanggilnya dengan : Caroline. Lucunya, pada akhir film semua mereka dapat mengucapkan namanya dengan benar.
Well that’s mean a lot.
Adegan menarik lainnya adalah adegan Cat yang tiba2 menghilang di balik tiang pada bagian akhir film. Seolah mengundang tanya, siapakah atau apakah Cat sebenarnya.
Dan bukankah Cat adalah satu2nya makhluk disitu yang dengan jelas menyatakan sejak awal :
You probably think this world is a dream come true... but you're wrong.

Dream’s perfect, our life’s not.
It should be not.
If it’s perfect, there must be something wrong.


 

Pada Suatu Siang di Mangga Besar
sakurai_jo
Suatu siang, adik ipar dan mama mertua gue berjalan – jalan ke daerah Mangga Besar, sekaligus potong rambut ke hair stylist langganan mereka di daerah tersebut.
Sudah tengah hari ketika mereka mampir di sebuah food court di tengah pusat perbelanjaan. Sang mama sibuk menelpon sementara adik gue duduk diam, berusaha santai dengan menyandarkan tubuh pada punggung kursi makannya. Dan saat itulah ia mendengarkan pembicaraan singkat yang cukup menarik perhatian, yang datang dari arah tempat duduk di belakangnya.

“Iya, gue pernah nganterin temen gue gugurin kandungan. Serem banget, dikorek – korek gitu,”
“Lo sendiri gimana ngejalaninnya ?”
“Yah, gitu deh. Yang penting kalo lagi begitu lo jangan bawa perasaan lo. Anggep aja Om lo sendiri,”
“Lo pertamanya gimana sih ?”
“Gue sebenarnya ga niat kaya gini. Ini bermula dari temen gue. Dia sempat bikin janji sama dua orang dalam waktu yang sama, dan itu ga mungkin. Gue ditawarin untuk mengencani salah satu Om yang udah terlanjut dia janjikan buat kencan. Yah, karena kondisi gue saat itu lagi butuh duit, ya akhirnya gue terima. Om-nya baik, gue dibeliin macem – macem. Dia cerita dia punya rumah di Sumedang.”
“….”
“Yah, yang namanya sekarang orang butuh macem – macem ya. Pengen beli baju baru, pengen perhiasan. Yah, gue mau aja ngejalaninnya,”

Tiba – tiba muncul seorang kawannya lagi yang tampaknya waria.

“Iye bow, kerjaannya enak. Lo bakalan suka dah. Cuma begini – begini doang (dengan gaya yang bermaksud kocak dan nakal ia menggoyang – goyangkan tubuh bagian bawahnya ke depan dan ke belakang ) dapet duiiiit!”

Tawa membahana.

Dan saat itu juga terbersit rasa iba dari adik gue kepada mereka

Differences part 2 : About Their Stories and Ours
sakurai_jo
(tulisan dibuat Oktober 2008)
 
“Burns Living Flowers” he introduced himself.
My eyes widened at his name. Fire World – how unexpected.
“Wanderer” I told him.
“It’s…extraordinary to meet you, Wanderer. And here I thought I was one of a kind”
“Not even close” I said, thinking of Sunny (Sunlight Passing Through the Ice) back in the caves. Perhaps we here none of us as rare as we thought.
He raised an eyebrow at my answer, intrigued.
“Is that so ?” he said “Well, maybe there’s some hope for this planet, after all.”
“It’s a strange world,” I murmured, more to myself than to the other native soul.
“The strangest” he agreed.

(salah satu dialog favorit gw dalam The Host)
 
 
Image and video hosting by TinyPic

Gw masih mengutip dialog dari novel The Host diatas, karena dari dialog itu tiba – tiba gw kepingin menulis ini.
Tentang hal yang masih terkait dengan perbedaan dan betapa istimewanya kita manusia, dan bumi tempat kita tinggal.
Dalam The Host, Burns dan Wanderer mencintai bumi ini, mereka ingin mati dan dikubur di bumi, dan mereka rela berbuat apa saja untuk manusia – manusia yang mereka kasihi di bumi ini.
Meskipun sebelumnya mereka sudah tinggal di beberapa dunia, bumi adalah yang istimewa.
Kita manusia, istimewa.
Selalu begitu adanya.

Differences.
Humans.
Aliens.
Differences. Again.

Di kepala gw saat ini terlintas cerita2 fantasi. The Host, ET, Little Prince, Twilight, Harry Potter, Terminator, The Matrix dan Lord of The Rings. Mungkin plus berjuta kisah yang lain.
Kisah – kisah itu kurang lebih mengetengahkan kisah manusia yang terkait dengan makhluk2 lain yang dalam berbagai karakter, bentuk dan asal muasalnya gw sebut mereka semua : The Aliens.
Dalam kisah2 ini, hampir selalu terdapat yang tokoh jahat dan yang baik, naturally.
Tapi kita tidak akan berbicara soal itu. That’s another story. That comes naturally.

Namun yang membuat kita terpukau adalah betapa banyak makhluk lain yang ternyata mempunyai hati yang jauh lebih bersih dari hati kita, manusia.
But still, anehnya kita manusia selalu dijunjungnya. Kita tetap ditempatkan pada posisi yang tinggi.
Kita, manusia, dipuja, dibela, dicinta, dikagumi. Menjadikan kita makhluk yang pantas diperhitungkan, dihormati, disayangi.
Takluk, dalam arti yang positif.
Well, yes of course.
Dalam sejarah sudah tercatat bahwa kita sudah membuat iblis bersumpah sekuat tenaga untuk mempengaruhi kita mengikuti jejaknya, dan telah membuat malaikat iri terhadap kita.

Ada apa dengan kita ??
Apa yang kita miliki sebenarnya ??

Ya, kita bisa mengizinkan mereka untuk mengagumi dan menyayangi kita. Itu hak kita. Bahkan mungkin menjadi wajib jika mereka memang punya hati yang baik. Kita punya hak untuk itu, sekuat hak prerogative kita untuk menentukan kepada apa dan siapa kita akan menaruh hormat, dan kasih.

Tokoh2 manusia dalam cerita2 merelakan diri mereka bersahabat, dihormati, disayangi , dicintai oleh The Aliens meskipun mereka adalah cacing, vampire, werewolf, robot, peri, iblis yang bertobat, makhluk neraka yang bertobat, bidadari, hantu atau makhluk berbentuk aneh yang lain.
Differences. Cara hidup mereka berbeda, tempat hidup mereka berbeda, apa yang mereka makan berbeda, bentuk tubuh mereka berbeda, cara memperlakukan kita berbeda.
Semuanya dalam arti yang benar2 ekstrim.
Toh, tokoh2 manusia dalam cerita itu menerima dan baik2 saja. Bahkan menyambut sikap mereka dengan tangan terbuka dan juga penuh kasih.
Kita pembaca juga baik2 saja, rela. Seolah kita menyetujui bahwa memang begitulah kondisi idealnya.
Para pengarang juga tentu saja baik – baik saja. Mereka yang me- reka2 tokoh yang ada, seolah berharap memang begitulah kondisi idealnya.

Lalu jika kita merubah bentuk The Aliens, menjadi orang2 sesama manusia diluar diri kita, bisakah kita baik – baik saja ?
Bagaimana jika sebutan ‘alien’ hanya representative dari ‘ketidaksempurnaan dan perbedaan’ ?
Imperfections in this un-perfect world.
Perbedaan.
Bisakah kita menerima meraka selayaknya kita menerima The Aliens ?
Di dunia dimana beda selera dalam berpakaian saja bisa jadi masalah besar.
Jangan – jangan malah bisa jadi pemicu perang.
Jangan – jangan memang lebih baik jika ada invasi dari alien saja, supaya hal – hal semacam itu terlupakan.

If other creatures can love us-humans- that much, then why can’t we-humans- love each other ?

Differences… hmmm…
Are they a curse or a gift for us to have ?
 

Hell No
sakurai_jo
Kemaren itu gue sempat menyinggung soal surga, nah sekarang ini gilirannya neraka.
Jika surga adalah tempat terindah yang bisa saja berbeda – beda bentuknya, tergantung seperti apa kita memandang sebuah kebahagiaan dan keindahan, berarti bisa dikatakan bahwa neraka adalah penggambaran dari mimpi terburuk, segala hal yang paling menakutkan, menjijikan atau yang paling kita benci, atau gabungan dari semuanya.

Ada temen gue yang amat sangat membenci sekaligus jijik dengan bulu ayam. Dan tiba – tiba dia berkata bahwa habislah dia jika dia bernasib buruk dan masuk neraka, sementara nereka itu adalah sebuah tempat yang berisi bulu ayam !
Well, kita semua tahu di dunia ini banyak sekali hal yang mungkin biasa saja bagi sebagian orang ternyata begitu menyeramkan bagi sebagian yang lain. Hal seperti ini paling banyak sih terkait dengan yang sifatnya phobia. Ada yang jijik dengan peniti atau kancing baju, ada yang histeris hanya dengan melihat motif baju polkadot, pun ada pula yang membenci kucing.
Ga bisa gue bayangkan bahwa tempat yang menyeramkan seperti neraka adalah tempat dengan banyak kancing, tempat dimana kita dipaksa memakai baju motif polkadot dan berpeniti banyak, atau tempat dimana kita diharuskan memelihara seratus ekor kucing.

Lalu, gue tiba - tiba teringat teman gue yang lain. Dia paling takut dengan berbagi jenis serangga, termasuk salah satunya adalah kupu – kupu.
Ya, kupu – kupu.
Sementara bayangan gue tentang surga adalah tempat dengan aneka warna kupu – kupu.

Apakah dengan demikian sebenarnya surga atau neraka adalah tergantung bagaimana kita menerimanya ?

By the way, jika nanti gue juga bernasib buruk dan juga masuk neraka, bisa tidak ya, minta tukar tempat ? (^0^)
Yaah, siapa tahu kan, ada penghuni neraka yang merupakan penyayang jenis-jenis binatang melata sementara ia membenci bunga….

I Dream Of Heaven
sakurai_jo
Seorang sahabat pernah berkata bahwa kita sebenarnya hidup pada dua dimensi yang berbeda. Kita yang sekarang ada di dunia ini dan kita yang lain ada di suatu tempat. Yang sama sekali asing. Bukan Negara, bukan wilayah. Hanya suatu tempat tertentu.
Kita yang hidup di tempat itu, memiliki link yang langsung terhubung ke kita yang saat ini hidup di dunia.
Mugkinkah itu adalah personifikasi dari jiwa, pikiran dan keinginan kita. ? Entahlah.
Terus terang gue ingin sekali percaya bahwa beneath or above this world, ada sebuah dunia maha indah dimana kita diterima dengan tangan terbuka di dalamnya. Tempat yang begitu luas sehingga bisa menampung siapa saja.
Dan meskipun gue belum berada pada tahap itu, rupanya nyaman juga jika memulai pembicaraan mengenainya.
Image and video hosting by TinyPic
Kerena memiliki link langsung kepada kita di sini, kegiatan kita disana juga seharusnya bisa terbaca dari apa yang tengah berkecamuk dalam jiwa kita.
A perfect analogy, I presume.
Contoh saja, jika kita mengalami kelelahan yang amat sangat, kita akan terlihat tertidur dengan pulas di sebuah tempat ternyaman yang pernah kita impikan. Jika deep down inside kita memiliki pertanyaan-pertanyaan yang sangat membutuhkan jawaban, atau otak kita sedang berputar keras tatkala menyelesaikan sesuatu masalah, bisa jadi kita terlihat sedang membaca.

Saat berbicara dengannya, gue menanyakan sedang apa ‘gue’ sekarang, dan saat itu ia menjawab bahwa gue sedang membaca buku yang sangat tebal dibawah sebuah pohon. Nyaman sekali tampaknya
Diwaktu yang lain, dilihatnya gue sedang tidur di bawah pohon.
Gue lalu bertanya, kenapa gue menyukai pohon itu.
Hmm.. banyak hal. Bisa jadi pohon itu adalah penggambaran perlindungan dan kenyamanan, atau keinginan akan hal itu. Tetapi bisa jadi gue memang sudah memimpikannya sejak lama.
Saat gue teringat sesuatu, gue tanya lagi apakah tempat dimana pohon itu berada adalah tempat yang dipenuhi dengan bunga ?
Dan ia meng-iyakan.
Hmm.. surgakah ? Atau hanya suatu tempat misterius yang berada di suatu titik tertentu dari otak kita yang mem-visualisasi diri ?

Gue selalu membayangkan surga adalah tempat yang penuh warna. Dan warna – warna itu muncul dari bunga, tumbuhan dan pepohonan disana. Tidak ada apa – apa lagi. Hanya pohon, tumbuhan dan jutaan bunga.
Binatangnya ? well burung Phoenix, kupu – kupu dan Pegasus, mungkin.
Well, sangat imaginative, bukan ? ;p
Mungkin saja mimpi gue ini sama saja dengan mimpi banyak orang tentang surga, atau bahkan mimpi anak balita. Tetapi gue tidak bisa membayangkan tempat lain yang senyaman dan sedemikian bersahabat kecuali tempat seperti itu.

It is what it is.
Suami gw bilang bahwa ia yakin penggambaran surga bagi masing2 orang berbeda2. Tergantung seseorang seperti apa orang tersebut melihat sebuah keindahan, dan pada kondisi apa dan bagaimana seseorang merasakan paling bahagia, terlindungi dan nyaman, maka disitulah surga-nya berada.


Lalu kira – kira seperti apa surgamu kelak ?
Ataukah seperti John Constantine, kamu yakin bahwa surga sebenarnya ada di tempat kita berpijak sekarang, berdampingan dengan neraka ?

Two Different World
sakurai_jo

Ada dua hal yang gw temui saat gw dan teman – teman kantor mengikuti acara training dan jalan – jalan ke kota gudeg Jogya. Dua hal ini sengaja gw ambil dari kota Jogya, sekaligus merenungkan bahwa bukan hanya di kota metropolitan Jakarta- yang sering disiniskan orang dengan menyebutnya sebagai the sin city - saja kita dapat menemui mereka.

Hal pertama yang gw liat adalah seorang kakek renta yang dengan gayanya yang tenang berjongkok di pinggir jalan menyantap dengan lahap nasi sisa yang dari bentuknya kita akan dapat mengira2 bahwa nasi itu diambilnya dari tempat sampah. Ia sama sekali tidak menggubris kami yang ribut saat melewatinya. Uang yang disodorkan seorang kawan-pun ia terima dengan reaksi yang biasa – biasa saja. Entah apa pikiran yang muncul di kepalanya.

Hal kedua adalah suasana remang di tempat hiburan malam dimana gw dan dua teman berada di sana, ‘hanya’ memesan satu pitcher bir. Seorang kawan mencoba menawarkan minuman yang lebih keras, tapi gw menolak dengan alasan mengingat kondisi kami yang lelah dan kurang fit. Kami pun mencoba menikmati suasana malam itu. Teman cowo gw cukup puas kelihatannya, mengingat dancer disana gw akui, cantik – cantik. Gw sempat berpikir digaji berapa mereka, dan mengapa tidak menjadi pemain sinetron saja ?! he he

Gw menyapu pandangan ke sekeliling gw, melihat orang2 disana, yang kebanyakan usia belia, dan teringat kembali dengan kakek yang makan nasi sisa tadi siang.

Pada versi sinetron di televise kita, segalanya pasti jelas. Si kakek adalah orang baik hati yang ter-dzolimi dan tentu saja dengan ikhlas menerima nasibnya, sementara yang berada di tempat hiburan kesemuanya adalah orang – orang brengsek, dengan keluarga berantakan yang gemar menghamburkan uang dan hobi menyiksa batin orang semacam kakek yang tadi.

Gw ragu dalam kehidupan nyata semuanya dapat terbaca segamblang itu. Gw ragu ada kebenaran mutlak atau sebaliknya, apalagi jika hanya mengandalkan indera mata.

Lalu gw membayangkan beberapa scenario.

Lelaki muda yang sedari tadi hanya duduk merokok di seberang bangku gw bisa jadi hanya menerima ajakan kawan baiknya yang ingin ditemani. Hmm, atau dia insomnia dan memilih tempat yang hangar bingar sehingga ia tidak merasa sendirian. Bisa saja salah satu dancer adalah pacar atau saudarinya, sehingga perlu baginya untuk menunggui mereka bekerja. Atau jangan – jangan bahkan ia jatuh cinta pada salah seorang dancer dan hanya berani sampai batas memandangi wajah si gadis.

Gadis belia dengan rambutnya yang dijalin dengan rentetan asesori rambut sehingga seolah rasta, sedari tadi tidak bisa duduk diam. Dalam pikiran gw, dia hanya ingin melewatkan malam minggunya dengan penuh keceriaan, dan ia ingin melewatkannya dengan kawan – kawan tersayang. Sementara semua kawannya berada di tempat itu, kesanalah ia pergi. Ke tempat dimana kawan – kawan terbaiknya berada.

Seorang perempuan muda di tengah bar dengan serius menakar beberapa jenis minuman dengan cepat dan menuangkannya dalam satu wadah. Ekspresinya seolah menyiratkan : ini pekerjaan gw, tidak banyak orang yang bisa melakukannya dan gw yakin bisa melakukannya dengan sempurna.

Dan sebelum mengalihkan pandangan pada jam tangan gw, terlihat dua anak muda gemulai yang tampaknya sangat gemar bergoyang.

Gay ? Don’t know!

Are they a couple ? Who cares !

Bagi gw, mereka adalah anak – anak yang butuh perhatian

Lalu bagaimana jika scenario yang lebih kelam dan absurd kita berikan pada si kakek ?

Skenario 1 : karena suatu sebab ia ditinggalkan anak istrinya, stress dan hidup di jalan

Skenario 2 : ada masa dimana ia adalah seorang yang kaya raya, namun ia pailit karena ia gemar berjudi, korupsi dan main perempuan, pailit dan jadi gelandangan.

Skenario 3 : Sedari dulu ia memang miskin, malas bekerja, gemar mengumpat sehingga kurang disukai orang, terusir dan akhirnya hidup di jalan

Skenario 4 : Karma-nya buruk karena ia memperlakukan orang dengan buruk

Skenario 5 : Ia seorang actor, observasi lalu mencoba mendalami perannya sebagai gelandangan, ia praktek langsung

Skenario 6 : Ia menjalani hidup di dua dunia. Dua kepribadian. Dr.Jekkyl & Mr.Hyde.

Skenario 6 : Ia seorang agen rahasia yang sedang menyamar

Skenario 7 : Ia adalah malaikat

Skenario terakhir : saat terjadi reinkarnasi, pada kehidupan mendatang nasibnya bertukar dengan orang – orang yang berada di tempat hiburan !

Yahaaa !!

Well, semua itu cuma ada di kepala gw. Jawaban pastinya cuma ada di langit.

Bagi gw, mereka hidup di dunia yang berbeda. Sepertinya bedanya hidup di Timur dengan di Barat misalnya. Atau hidup di kota dan di desa. Atau di negara 4 musim dan tropis.

Just different, that’s all.

Tidak ada kaitannya dengan benar atau salah. Ada dua hal yang gw temui saat gw dan teman – teman kantor mengikuti acara training dan jalan – jalan ke kota gudeg Jogya. Dua hal ini sengaja gw ambil dari kota Jogya, sekaligus merenungkan bahwa bukan hanya di kota metropolitan Jakarta- yang sering disiniskan orang dengan menyebutnya sebagai the sin city - saja kita dapat menemui mereka.

Hal pertama yang gw liat adalah seorang kakek renta yang dengan gayanya yang tenang berjongkok di pinggir jalan menyantap dengan lahap nasi sisa yang dari bentuknya kita akan dapat mengira2 bahwa nasi itu diambilnya dari tempat sampah. Ia sama sekali tidak menggubris kami yang ribut saat melewatinya. Uang yang disodorkan seorang kawan-pun ia terima dengan reaksi yang biasa – biasa saja. Entah apa pikiran yang muncul di kepalanya.

Hal kedua adalah suasana remang di tempat hiburan malam dimana gw dan dua teman berada di sana, ‘hanya’ memesan satu pitcher bir. Seorang kawan mencoba menawarkan minuman yang lebih keras, tapi gw menolak dengan alasan mengingat kondisi kami yang lelah dan kurang fit. Kami pun mencoba menikmati suasana malam itu. Teman cowo gw cukup puas kelihatannya, mengingat dancer disana gw akui, cantik – cantik. Gw sempat berpikir digaji berapa mereka, dan mengapa tidak menjadi pemain sinetron saja ?! he he

Gw menyapu pandangan ke sekeliling gw, melihat orang2 disana, yang kebanyakan usia belia, dan teringat kembali dengan kakek yang makan nasi sisa tadi siang.

Pada versi sinetron di televise kita, segalanya pasti jelas. Si kakek adalah orang baik hati yang ter-dzolimi dan tentu saja dengan ikhlas menerima nasibnya, sementara yang berada di tempat hiburan kesemuanya adalah orang – orang brengsek, dengan keluarga berantakan yang gemar menghamburkan uang dan hobi menyiksa batin orang semacam kakek yang tadi.

Gw ragu dalam kehidupan nyata semuanya dapat terbaca segamblang itu. Gw ragu ada kebenaran mutlak atau sebaliknya, apalagi jika hanya mengandalkan indera mata.

Lalu gw membayangkan beberapa scenario.

Lelaki muda yang sedari tadi hanya duduk merokok di seberang bangku gw bisa jadi hanya menerima ajakan kawan baiknya yang ingin ditemani. Hmm, atau dia insomnia dan memilih tempat yang hangar bingar sehingga ia tidak merasa sendirian. Bisa saja salah satu dancer adalah pacar atau saudarinya, sehingga perlu baginya untuk menunggui mereka bekerja. Atau jangan – jangan bahkan ia jatuh cinta pada salah seorang dancer dan hanya berani sampai batas memandangi wajah si gadis.

Gadis belia dengan rambutnya yang dijalin dengan rentetan asesori rambut sehingga seolah rasta, sedari tadi tidak bisa duduk diam. Dalam pikiran gw, dia hanya ingin melewatkan malam minggunya dengan penuh keceriaan, dan ia ingin melewatkannya dengan kawan – kawan tersayang. Sementara semua kawannya berada di tempat itu, kesanalah ia pergi. Ke tempat dimana kawan – kawan terbaiknya berada.

Seorang perempuan muda di tengah bar dengan serius menakar beberapa jenis minuman dengan cepat dan menuangkannya dalam satu wadah. Ekspresinya seolah menyiratkan : ini pekerjaan gw, tidak banyak orang yang bisa melakukannya dan gw yakin bisa melakukannya dengan sempurna.

Dan sebelum mengalihkan pandangan pada jam tangan gw, terlihat dua anak muda gemulai yang tampaknya sangat gemar bergoyang.

Gay ? Don’t know!

Are they a couple ? Who cares !

Bagi gw, mereka adalah anak – anak yang butuh perhatian

Lalu bagaimana jika scenario yang lebih kelam dan absurd kita berikan pada si kakek ?

Skenario 1 : karena suatu sebab ia ditinggalkan anak istrinya, stress dan hidup di jalan

Skenario 2 : ada masa dimana ia adalah seorang yang kaya raya, namun ia pailit karena ia gemar berjudi, korupsi dan main perempuan, pailit dan jadi gelandangan.

Skenario 3 : Sedari dulu ia memang miskin, malas bekerja, gemar mengumpat sehingga kurang disukai orang, terusir dan akhirnya hidup di jalan

Skenario 4 : Karma-nya buruk karena ia memperlakukan orang dengan buruk

Skenario 5 : Ia seorang actor, observasi lalu mencoba mendalami perannya sebagai gelandangan, ia praktek langsung

Skenario 6 : Ia menjalani hidup di dua dunia. Dua kepribadian. Dr.Jekkyl & Mr.Hyde.

Skenario 6 : Ia seorang agen rahasia yang sedang menyamar

Skenario 7 : Ia adalah malaikat

Skenario terakhir : saat terjadi reinkarnasi, pada kehidupan mendatang nasibnya bertukar dengan orang – orang yang berada di tempat hiburan !

Yahaaa !!

Well, semua itu cuma ada di kepala gw. Jawaban pastinya cuma ada di langit.

Bagi gw, mereka hidup di dunia yang berbeda. Sepertinya bedanya hidup di Timur dengan di Barat misalnya. Atau hidup di kota dan di desa. Atau di negara 4 musim dan tropis.

Just different, that’s all.

Tidak ada kaitannya dengan benar atau salah

Ada dua hal yang gw temui saat gw dan teman – teman kantor mengikuti acara training dan jalan – jalan ke kota gudeg Jogya. Dua hal ini sengaja gw ambil dari kota Jogya, sekaligus merenungkan bahwa bukan hanya di kota metropolitan Jakarta- yang sering disiniskan orang dengan menyebutnya sebagai the sin city - saja kita dapat menemui mereka.

Hal pertama yang gw liat adalah seorang kakek renta yang dengan gayanya yang tenang berjongkok di pinggir jalan menyantap dengan lahap nasi sisa yang dari bentuknya kita akan dapat mengira2 bahwa nasi itu diambilnya dari tempat sampah. Ia sama sekali tidak menggubris kami yang ribut saat melewatinya. Uang yang disodorkan seorang kawan-pun ia terima dengan reaksi yang biasa – biasa saja. Entah apa pikiran yang muncul di kepalanya.

Hal kedua adalah suasana remang di tempat hiburan malam dimana gw dan dua teman berada di sana, ‘hanya’ memesan satu pitcher bir. Seorang kawan mencoba menawarkan minuman yang lebih keras, tapi gw menolak dengan alasan mengingat kondisi kami yang lelah dan kurang fit. Kami pun mencoba menikmati suasana malam itu. Teman cowo gw cukup puas kelihatannya, mengingat dancer disana gw akui, cantik – cantik. Gw sempat berpikir digaji berapa mereka, dan mengapa tidak menjadi pemain sinetron saja ?! he he

Gw menyapu pandangan ke sekeliling gw, melihat orang2 disana, yang kebanyakan usia belia, dan teringat kembali dengan kakek yang makan nasi sisa tadi siang.

Pada versi sinetron di televise kita, segalanya pasti jelas. Si kakek adalah orang baik hati yang ter-dzolimi dan tentu saja dengan ikhlas menerima nasibnya, sementara yang berada di tempat hiburan kesemuanya adalah orang – orang brengsek, dengan keluarga berantakan yang gemar menghamburkan uang dan hobi menyiksa batin orang semacam kakek yang tadi.

Gw ragu dalam kehidupan nyata semuanya dapat terbaca segamblang itu. Gw ragu ada kebenaran mutlak atau sebaliknya, apalagi jika hanya mengandalkan indera mata.

Lalu gw membayangkan beberapa scenario.

Lelaki muda yang sedari tadi hanya duduk merokok di seberang bangku gw bisa jadi hanya menerima ajakan kawan baiknya yang ingin ditemani. Hmm, atau dia insomnia dan memilih tempat yang hangar bingar sehingga ia tidak merasa sendirian. Bisa saja salah satu dancer adalah pacar atau saudarinya, sehingga perlu baginya untuk menunggui mereka bekerja. Atau jangan – jangan bahkan ia jatuh cinta pada salah seorang dancer dan hanya berani sampai batas memandangi wajah si gadis.

Gadis belia dengan rambutnya yang dijalin dengan rentetan asesori rambut sehingga seolah rasta, sedari tadi tidak bisa duduk diam. Dalam pikiran gw, dia hanya ingin melewatkan malam minggunya dengan penuh keceriaan, dan ia ingin melewatkannya dengan kawan – kawan tersayang. Sementara semua kawannya berada di tempat itu, kesanalah ia pergi. Ke tempat dimana kawan – kawan terbaiknya berada.

Seorang perempuan muda di tengah bar dengan serius menakar beberapa jenis minuman dengan cepat dan menuangkannya dalam satu wadah. Ekspresinya seolah menyiratkan : ini pekerjaan gw, tidak banyak orang yang bisa melakukannya dan gw yakin bisa melakukannya dengan sempurna.

Dan sebelum mengalihkan pandangan pada jam tangan gw, terlihat dua anak muda gemulai yang tampaknya sangat gemar bergoyang.

Gay ? Don’t know!

Are they a couple ? Who cares !

Bagi gw, mereka adalah anak – anak yang butuh perhatian

Lalu bagaimana jika scenario yang lebih kelam dan absurd kita berikan pada si kakek ?

Skenario 1 : karena suatu sebab ia ditinggalkan anak istrinya, stress dan hidup di jalan

Skenario 2 : ada masa dimana ia adalah seorang yang kaya raya, namun ia pailit karena ia gemar berjudi, korupsi dan main perempuan, pailit dan jadi gelandangan.

Skenario 3 : Sedari dulu ia memang miskin, malas bekerja, gemar mengumpat sehingga kurang disukai orang, terusir dan akhirnya hidup di jalan

Skenario 4 : Karma-nya buruk karena ia memperlakukan orang dengan buruk

Skenario 5 : Ia seorang actor, observasi lalu mencoba mendalami perannya sebagai gelandangan, ia praktek langsung

Skenario 6 : Ia menjalani hidup di dua dunia. Dua kepribadian. Dr.Jekkyl & Mr.Hyde.

Skenario 6 : Ia seorang agen rahasia yang sedang menyamar

Skenario 7 : Ia adalah malaikat

Skenario terakhir : saat terjadi reinkarnasi, pada kehidupan mendatang nasibnya bertukar dengan orang – orang yang berada di tempat hiburan !

Yahaaa !!

Well, semua itu cuma ada di kepala gw. Jawaban pastinya cuma ada di langit.

Bagi gw, mereka hidup di dunia yang berbeda. Sepertinya bedanya hidup di Timur dengan di Barat misalnya. Atau hidup di kota dan di desa. Atau di negara 4 musim dan tropis.

Just different, that’s all.

Tidak ada kaitannya dengan benar atau salah. Ada dua hal yang gw temui saat gw dan teman – teman kantor mengikuti acara training dan jalan – jalan ke kota gudeg Jogya. Dua hal ini sengaja gw ambil dari kota Jogya, sekaligus merenungkan bahwa bukan hanya di kota metropolitan Jakarta- yang sering disiniskan orang dengan menyebutnya sebagai the sin city - saja kita dapat menemui mereka.

Hal pertama yang gw liat adalah seorang kakek renta yang dengan gayanya yang tenang berjongkok di pinggir jalan menyantap dengan lahap nasi sisa yang dari bentuknya kita akan dapat mengira2 bahwa nasi itu diambilnya dari tempat sampah. Ia sama sekali tidak menggubris kami yang ribut saat melewatinya. Uang yang disodorkan seorang kawan-pun ia terima dengan reaksi yang biasa – biasa saja. Entah apa pikiran yang muncul di kepalanya.

Hal kedua adalah suasana remang di tempat hiburan malam dimana gw dan dua teman berada di sana, ‘hanya’ memesan satu pitcher bir. Seorang kawan mencoba menawarkan minuman yang lebih keras, tapi gw menolak dengan alasan mengingat kondisi kami yang lelah dan kurang fit. Kami pun mencoba menikmati suasana malam itu. Teman cowo gw cukup puas kelihatannya, mengingat dancer disana gw akui, cantik – cantik. Gw sempat berpikir digaji berapa mereka, dan mengapa tidak menjadi pemain sinetron saja ?! he he

Gw menyapu pandangan ke sekeliling gw, melihat orang2 disana, yang kebanyakan usia belia, dan teringat kembali dengan kakek yang makan nasi sisa tadi siang.

Pada versi sinetron di televise kita, segalanya pasti jelas. Si kakek adalah orang baik hati yang ter-dzolimi dan tentu saja dengan ikhlas menerima nasibnya, sementara yang berada di tempat hiburan kesemuanya adalah orang – orang brengsek, dengan keluarga berantakan yang gemar menghamburkan uang dan hobi menyiksa batin orang semacam kakek yang tadi.

Gw ragu dalam kehidupan nyata semuanya dapat terbaca segamblang itu. Gw ragu ada kebenaran mutlak atau sebaliknya, apalagi jika hanya mengandalkan indera mata.

Lalu gw membayangkan beberapa scenario.

Lelaki muda yang sedari tadi hanya duduk merokok di seberang bangku gw bisa jadi hanya menerima ajakan kawan baiknya yang ingin ditemani. Hmm, atau dia insomnia dan memilih tempat yang hangar bingar sehingga ia tidak merasa sendirian. Bisa saja salah satu dancer adalah pacar atau saudarinya, sehingga perlu baginya untuk menunggui mereka bekerja. Atau jangan – jangan bahkan ia jatuh cinta pada salah seorang dancer dan hanya berani sampai batas memandangi wajah si gadis.

Gadis belia dengan rambutnya yang dijalin dengan rentetan asesori rambut sehingga seolah rasta, sedari tadi tidak bisa duduk diam. Dalam pikiran gw, dia hanya ingin melewatkan malam minggunya dengan penuh keceriaan, dan ia ingin melewatkannya dengan kawan – kawan tersayang. Sementara semua kawannya berada di tempat itu, kesanalah ia pergi. Ke tempat dimana kawan – kawan terbaiknya berada.

Seorang perempuan muda di tengah bar dengan serius menakar beberapa jenis minuman dengan cepat dan menuangkannya dalam satu wadah. Ekspresinya seolah menyiratkan : ini pekerjaan gw, tidak banyak orang yang bisa melakukannya dan gw yakin bisa melakukannya dengan sempurna.

Dan sebelum mengalihkan pandangan pada jam tangan gw, terlihat dua anak muda gemulai yang tampaknya sangat gemar bergoyang.

Gay ? Don’t know!

Are they a couple ? Who cares !

Bagi gw, mereka adalah anak – anak yang butuh perhatian

Lalu bagaimana jika scenario yang lebih kelam dan absurd kita berikan pada si kakek ?

Skenario 1 : karena suatu sebab ia ditinggalkan anak istrinya, stress dan hidup di jalan

Skenario 2 : ada masa dimana ia adalah seorang yang kaya raya, namun ia pailit karena ia gemar berjudi, korupsi dan main perempuan, pailit dan jadi gelandangan.

Skenario 3 : Sedari dulu ia memang miskin, malas bekerja, gemar mengumpat sehingga kurang disukai orang, terusir dan akhirnya hidup di jalan

Skenario 4 : Karma-nya buruk karena ia memperlakukan orang dengan buruk

Skenario 5 : Ia seorang actor, observasi lalu mencoba mendalami perannya sebagai gelandangan, ia praktek langsung

Skenario 6 : Ia menjalani hidup di dua dunia. Dua kepribadian. Dr.Jekkyl & Mr.Hyde.

Skenario 6 : Ia seorang agen rahasia yang sedang menyamar

Skenario 7 : Ia adalah malaikat

Skenario terakhir : saat terjadi reinkarnasi, pada kehidupan mendatang nasibnya bertukar dengan orang – orang yang berada di tempat hiburan !

Yahaaa !!

Well, semua itu cuma ada di kepala gw. Jawaban pastinya cuma ada di langit.

Bagi gw, mereka hidup di dunia yang berbeda. Sepertinya bedanya hidup di Timur dengan di Barat misalnya. Atau hidup di kota dan di desa. Atau di negara 4 musim dan tropis.

Just different, that’s all.

Tidak ada kaitannya dengan benar atau salah


'Rob, I Saw It ! It's Alive!!'
sakurai_jo
Cloverfield
Directed By : Matt Reeves
Cast : Michael Stahl-Davis, TJ. Miller, Jessica Lucas, Odette Yustman, Lizzy Caplan, Mike Vogel
Image and video hosting by TinyPic
Plot :
Cloverfield follows five New Yorkers from the perspective of hand held video camera. The movie is exactly the length of a DV Tape and a sub-plot is established by showing bits and pieces of video previously recorded on the tape that is being recorded over. The movie starts as a monster of unknown origin destroys a building. As they go to investigate, parts of the building and the head of the Statue of Liberty come raining down. The movie follows their adventure trying to escape and save a friend, a love interest of the main character. Written by Pip Carlson

My Note :

Sebelum gue mulai, gue kutip kata – kata karakter Rob Hawkins ( saat itu ia berbicara di depan handycam-nya ) dalam film ini :
“My name is Robert Hawkins. It’s 6:42 am on Saturday, May 23. Approximately 7 hours ago, something attacked the city. I don’t know what it is! If you found this tape … I mean .. if you’re watching this right now, then you probably know more than I do…”

Ingatan gue langsung terbang ke komentar sepupu gue tatkala kita sama – sama meraba, seperti apakah film yang katanya sepenuhnya diambil dari kamera genggam melalui karakter – karakter di dalamnya. Gue cuma kepikiran Blair Witch Project aja, sementara ia curiga jangan-jangan film ini mirip film berjudul : Monster. Film bikinan Eric Forsberg & Erik Estenberg yang berlokasi di Jepang. Gue cari film itu di internet, dan memang benar ada. Dijelaskan di imdb bahwa Monster bercerita mengenai suatu gempa dasyat misterius dan memakan banyak korban nyawa dan material namun tiada yang tahu apa sebabnya, hingga jawaban yang mengejutkan muncul tatkala ada yang menemukan handycam milik 2 orang film maker Amerika yang kebetulan merekam kejadian misterius tersebut ( ada yang bilang film ini buruk, apalagi jika dibandingkan dengan Cloverfield. Gue ga akan komentar banyak soal film ini, karena gue belum nonton).
Dari sini gue menemui benang merah. Mengingat dalam film Monster, orang yang menemukan film dalam handy-cam sama tidak tahunya dengan karakter Rob Hawkins yang mengalami kejadiannya langsung dalam Cloverfield, bisa jadi Rob Hawkins sama tidak mengertinya dengan orang yang akan menemukan handycam-nya kelak. Sama – sama cengo-nya dan mempertanyakan kenapa dan darimana datangnya monster yang tiba – tiba menyerang kota, meluluh lantakkan semua, membunuh orang – orang tercinta. Kalau mau tahu jawabannya, hmmm… mungkin saja ada di film.. ..The Mist ! Yeah !
Right ! Tiba – tiba saja gue menemukan keterkaitan dari ketiga film itu ! Dan lo mesti nonton ketiganya untuk bisa mengerti maksud gue ! he he he just a thought.
Image and video hosting by TinyPic
Anywaaaay…bagi gue Cloverfield : bagus. Emosi yang kebawa dari gue real banget, acting para pemainnya juga alami. Ga ada yang luar biasa, tapi juga ga ada yang seperti dibuat – buat. Real. Gue kayanya bisa aja berkali – kali nonton film ini, dan kembali merasakan ketegangannya. Orang yang biasa – biasa aja, menjadi saksi kejadian maha penting. Rupanya konsep handycam ini manjur, mengingat sebenarnya cerita film ini biasa saja, dan sudah banyak tema serupa yang diangkat ke layar lebar. Cara penuturannya membuat gue mau ga mau membayangkan bagaimana jika hal tersebut gue alami dalam kehidupan gue. Kota dimana tempat kita tinggal, yang semula luput dari perhatian, dimana kita ‘misuh-misuh’ tiap saat tiba – tiba musnah, dan sekonyong – konyong kita merasa kehilangan dan amat sangat merindukannya. Belum lagi soal kawan, keluarga dan orang – orang tersayang yang tinggal di kota yang sama. Ngeri membayangkannya. Ketidak jelasan jawaban dari musibah yang menimpa dalam film ini bisa saja memperingan tugas film maker-nya, namun bagi gue justru lebih riil. Gw Cuma ngeri kalo ada Cloverfield 2, atau semacamnya yang seolah merupakan lanjutan dan pencarian jawaban yang pada akhirnya cuma jadi film horror slasher murahan.
Tambahan : gue belum berhasil membujuk suami gue untuk nonton film ini. Ntar gue bujuk lagi. He he he…

?

Log in